Tugu Perguruan Silat di Sragen Akan Dirobohkan

Ilustrasi Pencak Silat - JIBI/Bisnis.com
28 Juni 2020 12:47 WIB Muh Khodiq Duhri & Tri Rahayu News Share :

Harianjogja.com, SRAGEN – Tugu perguruan silat di Sragen terancam bakal dirobohkan bila permasalahan antar-pendekar tak kunjung menemui titik terang. Namun rencana tersebut ditolak sejumlah pendekar dengan berbagai alasan.

Rencana pembongkaran sekitar 206 tugu perguruan silat itu muncul berdasarkan rapat koordinasi Forkompinda bersama wakil tiga kelompok silat, Jumat (26/6/2020). Rapat koordinasi Forkompinda berwama dua perwakilan Persaudraan Setia Hati terate (PSHT) Sragen dan Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia (IKSPI) Kera Sakti Sragen.

Pertemuan itu menyepakati semua tugu perguruan silat yang berdiri di tepi jalan umum harus dibongkar. Hal ini dikarenakan belakangan kerap terjadi aksi pengrusakan tugu perguruan silat yang dipicu oleh informasi bernada provokasi yang beredar di media sosial.

Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo yang memimpin pertemuan itu memberi tenggat selama sepekan bagi semua perguruan silat untuk pembongkaran tugu yang sudah mereka bangun. Akan tetapi, sejumlah perwakilan dari perguruan silat meminta waktu lebih longgar karena perlu menyosialisasikan hal itu kepada anggota.

Terlebih tidak semua wakil perguruan silat ikut hadir dalam pertemuan yang digelar di Ruang Sukowati Setda Sragen tersebut. Tenggat untuk pembongkaran semua tugu perguruan silat itu rencananya diputuskan dalam pertemuan Senin besok.

Pendekar Menolak

Rencana tugu perguruan silat yang dirobohkan itu ternyata mendapat penolakan dari sejumlah pendekar. Salah satu anggota PSHT Sragen asal Masaran, Sugiyamto, mengaku keberatan jika tugu perguruan silat kebanggannya dirobohkan.

Sebab, tugu tersebut merupakan simbol kebesaran PSHT. Dia menyarankan polisi menindak oknum pembuat kerusuhan, bukan merobohkan tugu. Apalagi tugu hanya benda mati yang tidak memiliki kesalahan apapun dan biaya pembuatannya mahal, mulai Rp5 juta hinggga Rp25 juta per tugu.

Lantas, apa sebenarnya penyebab kerusuhan antar-perguruan silat di Sragen? Diberitakan sebelumnya, belakangan ini tiga kubu perguruan silat di Bumi Sukowati itu memang kerap terlibat perseturuan. Yang terbaru, sekitar 20 orang merusak sebuah tugu yang menjadi simbol perguruan silat PSHT di Dukuh Karangweru, Desa Krikilan, Kecamatan Masaran, Sragen, pada Jumat (26/6/2020) dini hari.

Akar Masalah

Menurut Sugiyamto, masalah muncul ketika ada hajatan warga yang disertai dengan hiburan. Kemudian ada oknum yang membuat keributan.

Kalau seperti itu, Sugiyamto bertanya apa kemudian penyelenggara hiburan dilarang atau senimannya yang dilarang? Mestinya pokok permasalahan ada pada oknumnya.

“Kalau rencana itu dibiarkan, saya khawatir bukan hanya tugunya yang dirobohkan tetapi padepokan juga bisa dirobohkan,” ujar dia.

Informasi yang dihimpun JIBI/Solopos, sekitar 20 warga sudah berkumpul di depan tugu PSHT tepatnya di depan warung makan swike Dukuh Karangweru. Mereka lalu merusak patung pesilat yang berada di bagian atas tugu PSHT itu. Merasa khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, Sodiq, 65, warga setempat langsung menutup warung swike miliknya. Selang beberapa saat kemudian, sekitar 20 warga itu meninggalkan lokasi.

Tri Warsito, warga sekitar, sempat melihat kondisi patung pesilat PSHT yang rusak sekitar pukul 03.00 WIB. Kerusakan patung itu terletak di bagian pergelangan tangan yang pecah. Terdapat sebuah paving di bagian kaki patung yang diduga digunakan untuk merusak simbol dari PSHT itu.

Mendapati simbol organisasi dalam kondisi rusak, Ketua Rayon PSHT Masaran, Prasetyo Widodo, malaporkan ke Polsek Masaran. Polisi kemudian datang ke lokasi kejadian untuk memeriksa kondisi tugu dan meminta keterangan sejumlah saksi.

Hingga kini, belum diketahui sekelompok orang yang telah merusak tugu PSHT di Desa Krikilan, Kecamatan Masaran tersebut. Diduga aksi kejahatan itu dilakukan oleh kelompok atau perguruan silat yang merasa dikecewakan oleh anggota perguruan silat lain.

Respons Bupati

Khawatir terjadi aksi balasan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo, mengumpulkan pimpinan tiga perguruan silat di hadapan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) di Ruang Sukowati, kompleks Setda Sragen, Jumat pagi. Akhirnya disepakati tugu perguruan silat di Sragen bakal dirobohkan agar tidak menimbulkan masalah.

Namun ternyata rencana tersebut ditolak para pendekar. Menanggapi hal tersebut, Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, angkat bicara. Dia meminta para pendekar perguruan silat di Sragen saling menjaga ketertiban.

“Saya bilang semua pihak harus dapat menahan diri demi terwujudnya Bumi Sukowati yang tenang, kondusif, aman, dan nyaman. Polres sebagai penjaga Kamtibmas tentu memiliki alasan yang bisa dipertanggungjawabkan ketika mengambil rencana supaya tugu perguruan dirobohkan. Sebaliknya, para pendekar pun harus instropeksi diri. Gangguan kamtibmas yang timbul beberapa bulan ini dipicu oleh apa?” ujar Yuni, sapaan Bupati, saat dimintai tanggapan terkait permasalahan antarpendekar pencak silat, Sabtu (27/6/2020).

Yuni juga mempertanyakan apakah para pemimpin perguruan silat di Sragen bisa menjamin ketertiban anggotanya atau tidak agar tidak menimbulkan masalah. “Bila bisa, sampaikan dengan baik dan sepakat,” katanya.

Sumber : JIBI/Solopos