Profesor Virologi Sangkal Isu Corona Rekayasa Laboratorium

Para pejalan kaki menggunakan masker untuk mencegah penularan virus corona Covid-19 melintas di Lapangan Merah di dekat Istana Kremlin di Moskwa, Rusia../Bloomberg - Andrey Rudakov
10 Juni 2020 13:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pembahasan soal asal usul dari virus corona baru SARS-CoV-2 yang telah menyebabkan pandemi Covid-19 selalu menarik. Sejumlah teori bermunculan, tetap para ahli virologi telah membantah klaim bahwa virus merupakan buatan manusia.

Kali ini, tuduhan soal virus yang berasal dari rekayasa laboratorium berasal dari tim peneliti Inggris dan Norwegia. Dalam makalah penelitian, para peneliti memperingatkan bahwa vaksin virus corona akan gagal karena ilmuwan telah salah dalam memahami virus itu sendiri.

Tim peneliti tersebut mengklaim bahwa urutan RNA virus corona baru memiliki unsur-unsur yang tampak merupakan hasil dari buatan manusia, atau disisipkan secara buatan. Tim itu juga mengembangkan vaksin dan telah mempertimbangkan unsur tersebut.

Namun demikian, sejumlah ahli virologi lain menyangkal dengan keras makalah dan temuan yang dilaporkan oleh para peneliti dari Inggris dan Norwegia tersebut. Vincent Racaniello, profesor virologi dari Columbia University mengatakan bahwa makalah tersebut adalah omong kosong.

“Benar-benar 100 persen mustahil bahwa SARS-CoV-2 dibuat di laboratorium. Unsur-unsur dalam virus ini semuanya berasal dari kelelawar CoV seperti SARS yang beredar di alam,” katanya seperti dikutip ABC News, Rabu (10/6).

Sementara itu, Robert Garry, ahli virologi dari Tullane University mengatakan bahwa tidak ada ilmuwan atau kelompok ilmuwan yang menciptakan virus ini di laboratorium. Hal tersebut lantaran prosesnya membutuhkan wawasan tentang patogenesis dan rekayasa protein yang tidak ada.

Garry menjelaskan bahwa banyak materi genetik dari virus yang menyebabkan Covid-19 merip dengan yang ditemukan pada sampel virus dari hewan, dan tidak diketahui oleh sains sampai terjadinya pandemi global sekarang.

Amesh Adalja, sarjana senior di John Hopkins Center for Health Security menambahkan bahwa materi genetik dan perubahan genetik pada virus corona baru adalah evolusi alami dan bersumber dari hewan yang memang mungkin terjadi.

“Ada banyak rumor dan teori konspirasi. Saya pikir, kita mungkin akan lebih banyak lagi melihat hal-hal seperti itu,” tandasnya.

Saat ini, ada banyak ahli yang memperingatkan bahwa studi seperti yang dilakukan peneliti dari Inggris dan Norwegia tidak hanya menyesatkan, tetapi juga menyebabkan pengikisan kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga ilmiah.

Rupali Limaye, ilmuwan sosial dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health mencatat bahwa kesalahan informasi mengenai Covid-19 telah mengacaukan pesan dari para pakar pandemi dan menciptakan ketidakpercayaan.

Rasmus Nielsen, profesor komunikasi di University of Oxford menyatakan bahwa tidak setiap orang dilengkapi dengan keterampilan menyaring informasi yang baik dan tidak banyak orang yang memiliki kecenderungan untuk menilai kredibilitas atau keakuratan setiap informasi.

Dengan ketidakpercayaan yang terjadi, orang sering beralih ke sarana atau sumber alternatif untuk mencari informasi, yang juga menimbulkan kekhawatiran masyarakat bakal berhenti memercayai konsensus medis yang sudah mapan.

Padahal, salah satu keberhasilan dalam mengalahkan pandemi saat ini akan sangat bergantung pada informasi yang akurat dan kepercayaan publik terutama kaitannya dengan proses penyebaran virus dan vaksin.

Oleh sebab itu, para ahli virologi menyatakan dengan tegas agar para peneliti benar-benar melakukan proses penelitiannya dengan objektif dan meminta masyarakat mengesampingkan informasi keliru berkaitan dengan pandemi ini.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia