Petani Diminta Percepat Musim Tanam Padi untuk Antisipasi Krisis Pangan

Petani mengumpulkan bibit padi usia 3 pekan di tempat pembibitan sawah tadah hujan Niaso, Maro Sebo, Muarojambi, Jambi, Kamis (30/4 - 2020). /Antara
06 Mei 2020 00:27 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian bakal mendorong percepatan masa tanam kedua untuk padi seusai panen hasil tanam rendeng selesai pada Mei ini. Hal itu dilakukan demi menjamin ketersediaan beras sampai akhir tahun mengingat adanya potensi kemarau panjang pada paruh kedua 2020.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengemukakan total luas panen pada musim rendeng mencapai 7,4 juta hektare (ha). Dengan mempertimbangkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa masih terdapat curah hujan pada akhir Mei sampai Juni, lahan eksisting yang bisa segera ditanami untuk musim gadu mencapai 5,6 juta ha.

"Oleh karena itu kami minta petani untuk segera kembali ke lahan pertanian. Kami minta di daerah segera bagikan bibit dan pupuk, termasuk alsintan [alat mesin pertanian] agar segera disalurkan," kata Syahrul dalam sebuah diskusi virtual di Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo meminta petani mempercepat musim tanam untuk mengantisipasi kekeringan menjelang musim kemarau.

Presiden juga meminta agar sarana dan prasarana petani didukung sehingga mampu memenuhi kebutuhan produksi petani. Hal tersebut disampaikan dalam rapat terbatas secara virtual dari Istana Merdeka Jakarta yang dihadiri oleh jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju, Selasa (5/5/2020).

Menurut Syahrul, jika seluruh area sawah ditanami dan produksi berjalan sebagaimana harapan maka akan ada tambahan pasokan gabah kerih giling (GKG) lebih dari 20 juta ton. Jumlah tersebut dihitung dengan perkiraan produktivitas rata-rata padi sebesar 5 ton per ha.

Selain menyiapkan percepatan penanaman pada lahan eksisting, pihaknya pun menerima usulan dari Presiden Joko Widodo untuk mengoptimalisasi lahan-lahan rawa dan lahan marjinal yang jumlahnya mencapai 600.000 ha. Upaya penanaman di lahan baru ini disebut Syahrul disiapkan dalam rangka menjamin ketersediaan beras sampai 3 bulan pertama 2021.

"Agar stok aman sampai awal tahun 2021 kita perlu tambahan di atas 1 juta ton. Perkiraan kami stok akhir 2020 hanya 1,8 juta ton. Kita setidaknya butuh 3 juta ton agar bisa survive tiga bulan pertama 2021," lanjut Syahrul.

Dengan asumsi 600.000 ton ini dapat terealisasi, Syahrul mengatakan terdapat potensi tambahan pasokan sebanyak 900.000 ton beras atau 1,8 juta ton GKG. Produksi padi di lahan marjinal cenderung lebih rendah dari lahan konvensial, hanya di kisaran 3 ton per ha.

Petani mengumpulkan bibit padi berusia 3 pekan di tempat pembibitan sawah tadah hujan Niaso, Maro Sebo, Muarojambi, Jambi, Kamis (30/4/2020). Sejumlah petani di daerah itu menggunakan halaman di sekitar rumah mereka untuk pembibitan padi guna mengantisipasi banjir musiman yang sering mengakibatkan pembibitan di sawah tadah hujan miliknya terendam. (Foto ANTARA)

Sumber : bisnis.com