Pasien Sembuh Covid-19 Kembali Terinfeksi Corona Kian Banyak, Teori Antibodi Diragukan

Seorang peneliti bekerja di laboratorium pusat pencegahan dan pengendalian penyakit di Nanyang, Provinsi Henan, China tengah, pada 4 Februari 2020. - Antara/Xinhua
14 April 2020 18:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Teori yang menyebut orang yang terinfeksi virus dan telah mengalahkannya akan memiliki antibodi yang dapat menangkal virus di kemudian hari terus diragukan, terutama dalam kasus infeksi Corona penyebab Covid-19 yang kini menjadi pandemi global.

Teori awal itu diragukan karena nyatanya ada kasus yang menunjukkan bahwa orang yang telah terinfeksi dan sembuh dapat kembali terinfeksi virus corona. Mereka yang telah dinyatakan negatif corona, kembali positif setelah dilakukan pengetesan.

Kasus ini misalnya terjadi di Korea Selatan, yang telah berhasil melindungi 51 juta warganya dengan pengujian yang masif dan pelacakan yang ketat. Kendati tingkat kematian di negara itu sangat rendah, tetapi beberapa orang yang telah pulih, dinyatakan positif corona untuk kedua kalinya.

Dalam sebuah konferensi pers pada minggu lalu, pejabat pemerintah setempat mengumumkan bahwa ada 51 kasus semacam itu yang telah diidentifikasi. Angkanya terus bertambah hingga akhir pekan lalu menjadi 74 kasus, dan sekarang dilaporkan ada 116 kasus pasien positif dua kali.

Tidak ada rincian kasus lebih lanjut yang telah dipublikasikan, tetap hal ini telah menimbulkan kekhawatiran bahwa orang mungkin tidak mengembangkan sistem imun tubuh terhadap virus dengan melapaskan antibodi.

Penemuan di Korea Selatan juga telah menimbulkan pertanyaan apakan beberapa orang telah terinfeksi ulang virus tersebut dari orang lain atau apakah virus itu tetap ada di dalam tubuh mereka dan entah bagaimana mekanismenya virus tersebut kembali aktif.

Ini membuat para ahli bertanya-tanya apakah mereka yang selamat tanpa gejala dapat menginfeksi orang lain yang berada di sekitarnya, dan yang terpenting bahwa hal ini memberi tanda tanya apakah kita bisa berharap untuk menghilangkan ancaman virus corona secara menyeluruh.

David Heymann, profesor epidemiologi penyakit menular di London School of Hygiene & Tropical Medicine mengungkapkan kekhawatirannya bahwa virus corona baru ini bisa menjadi endemik, yang berarti mempunyai fitur permanen dengan potensi menyebabkan wabah secara berkala, seperti halnya flu.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Bukti pertama, bahwa orang dapat terinfeksi ulang pertama kali dilaporkan pada Februari, ketika otoritas kesehatan di Jepang melaporkan bahwa seorang wanita berusia 40an dites positif terkena virus setelah dinyatakan sembuh.

Pada Maret, para peneliti dari Fudan University di China menguji sampel darah dari 175 pasien yang telah pulih dari COVID-19 dan menemukan bahwa sepertiga dari mereka memiliki antibodi yang sangat rendah.

Heymann, yang memimpin kelompok penasihat strategis dan teknis untuk bahaya infeksi di World Health Organization mengatakan bahwa virus corona mungkin tidak bisa dihilangkan dari tubuh orang yang telah terinfeksi.

“Korea Selatan sedang berusaha mencari tahu apakah tes ini menunjukkan infeksi ulang atau kambuh. Tetapi data itu tidak akan tersedia dalam waktu dekat,” katanya seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (14/4/2020).

Dia menyebutkan bahwa mungkin ada antibodi yang diproduksi setelah terinfeksi virus dan itu bersifat protektif, tetapi barangkali terlalu mengekspos diri di lingkungan luar tanpa perlundungan yang mumpuni merupakan tindakan yang tidak bijaksana.

“Kemungkinan lainnya adalah bahwa Covid-19 dapat bertahan lebih lama dari yang kita harapkan, dan itu bisa jadi bertahan tanpa batas waktu,” lanjut Heymann.

Hal senada juga diungkapkan oleh ahli lainnya. Jan Albert, profesor pengendalian penyakit menular di Institute Karlinska di Swedia menyatakan bahwa Covid-19 bukan tidak mungkin akan menjadi penyakit endemik.

Menurutnya, justru akan mengejutkan jika virus ini bukan virus musiman. Pertanyaan yang lebih tepat dalam konteks ini adalah apakah sensitivitas virus terhadap musim akan memengaruhi kapasitasnya untuk menyebar dalam situasi pandemi, “Ini yang kami tidak tahu pasti,” katanya.

Optimistis

Kendati begitu, juru bicara Public Health England (PHE) menolak untuk menggambarkan berapa lama perlindungan yang dibentuk oleh antibodi dapat berlangsung, khususnya terhadap infeksi virus corona baru ini.

Juru bicara itu menyatakan ada bukti bahwa pasien yang pulih telah mengalami proses pelepasan materi genetik yang berkepanjangan dari virus, yang kemudian akan muncul dalam tes.

“Penting untuk dicatat bahwa deteksi gen virus tidak sama dengan infektivitasnya tetapi ini adalah virus baru yang sedang diteliti para ilmuwan sepanjang waktu,” kata juru bicara PHE.

Wendy Barclay, seorang profesor virologi di Imperial College London juga setuju dengan hal tersebut. Dia masih mempertanyakan banyak hal tentang kasus di infeksi ulang di Korea Selatan dan menyebut masih perlu bukti yang lebih banyak dan konkrit.

Paul Kellam, ahli genomik virus di Imperial College London juga menyatakan bahwa gagasan virus dapat bertahan lama pada seseorang dan kemudian aktif kembali sangat sulit dipahami.

“Dari apa yang kita ketahui, virus itu tidak bertahan atau diaktifkan kembali. Kami tidak tahu detail tentang mereka yang tampaknya telah terinfeksi ulang, dan dalam kasus apapun ini adalah sebagian kecil dari orang yang terkena virus corona,” katanya.

Robert Dingwall, sosiolog dari Nottingham Trent University mengatakan bahwa tidak ada ide yang jelas tentang siapa yang kebal dari virus corona baru ini dan berapa lama kekebalan akan berlangsung. Akan tetapi, Dia menyatakan dari studi sebelumnya, kekebalan virus lain juga tidak permanen. SARS misalnya yang kekebalan atau daya tahan virusnya menurun setelah 1 tahun.

“Vaksinasi terhadap penyakit anak-anak seperti campak tidak memberikan kekebalan seumur hidup, tetapi karena sebagian besar penduduk divaksinasi, Anda mendapatkan perlindungan,” katanya.

Pada akhirnya, dalam kondisi saat ini, satu hal yang disepakati oleh para ahli dan ilmuwan dari berbagai negara bahwa tidak ada yang tahu bagaimana dunia di masa depan setelah kedatangan pandemi Covid-19. Informasi yang ada belum banyak dan diperlukan banyak penelitian untuk memahami lebih lanjut tentang banyak hal.