Kinerja 100 Hari Jokowi: Suprastruktur Jadi Sorotan

Presiden Joko Wiodo memberikan keterangan saat menerima kunjungan dari tim redaksi Harian Bisnis Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/5/2019). Bisnis - Abdullah Azzam
30 Januari 2020 01:27 WIB Dea Andriyawan News Share :

Harianjogja.com, BANDUNG - Sejumlah kalangan dari GMNI Telkom University, Second House, dan BEM FEB Telkom University menggelar diskusi terkait tantangan dan capaian pemerintahan jokowi-amin dalam 100 hari kerja.

Diskusi tersebut diisi Wakil Kepala Bidang Ekonomi KNPI Bandung, Ditya Adjie Kusuma, Ketua Forum Mahasiswa Ekonomi Swasta Bandung Raya, Rizki Setiawan dan Gubernur BEM FEB Telkom University, Hazeli Arwa.

“Konsentrasi terhadap suprastruktur, yang jangan sampai pemerintah menyediakan kebijakan yang belum bisa diterima secara kebijakan sebagaimana kata Bung Karno kita membangun sebuah bangsa bukan hanya perihal ekonomi ataupun teknin tetapi lebih dari itu adalah membangun jiwa bangsa," kata, Rizki Setiawan, Rabu (29/1/2020).

Menurutnya Indonesia butuh penyadaran, pemikiran rasional, jangan sampai aspektabilitas sosialkultural menjadi sosialkultural yang dogmatis dan tenggalam dalam sentimen yang mampu mengakibatkan pemerosotan potensi ekonomi yang ada di indonesia dari berbagai sektor.

"Penyaluran APBN lebih efektif guna menjadi stimulus dalam pertumbuhan PDB dalam sektor industrialisasi domestik," tambah Rizki.

Sementara itu, Wakabid Ekonomi KNPI Bandung, Ditya Adjie Kusuma menanggapi 100 hari kerja dari Jokowi-Amin ini menitik beratkan pada stabilitas ekonomi yang harus lebih detail untuk support bidang lain, terutama bidang ekonomi.

"Harapannya untuk menambah pendapatan negara. Lebih kreatif mencari jalan lain,mendorong kebijakan ekonomi digital, lebih dijelaskan grand design utk umkm, ekonomi kerakyatan dan pembangunan SDM," kata dia.

Ia menambahkan, ketika membangun suatu negara yang dalam waktu dekat akan menghadapi bonus demografi jangan melulu nunggu informasi tapi hari ini pemuda harus bisa menjemput bola, sehingga akan lebih cepat menentukan sikap saat mengetahui potensi negeri.

“Hari ini belum ada gebrakan yang merasa kuta memiliki suatu pembaharuan di pemerintah hingga akhirnya tidak terbangun kepercayaan masyarakat akan pemerintah hari ini oleh karena itu saya harap pemerintah bisa bekerja lebih keras lagi mengatur segi hukum dan perekonomian agar menjawab semua jebakan di middle income trap," tutur Ketua BEM FEB Telkom University Hazeli Arwa.

Sumber : Bisnis.com