Ayatollah Ali Khamenei Kritik AS Saat Khotbah, Trump Ingatkan Hati-hati Bicara

Presiden Iran Hassan Rouhani melaksanakan salat Jumat dengan imam Pemimpin Tertinggo Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran, Iran, Jumat (17/1/2020). - Istimewa
18 Januari 2020 20:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA  - Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei melontarkan kritikan pedas terhadap Amerika Serikat dalam khotbah Jumat  (17/1/2020) di Teheran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Khamanei  harus sangat berhati-hati dengan apa yang dikatakan.

"Yang disebut 'Pemimpin Spritual' Iran, yang belum begitu menjadi penguasa, memilik hal buruk untuk dikatakan mengenai Amerika Serikat dan Eropa," cuit Trump di Twitter.

"Ekonomi mereka hancur, dan rakyat mereka juga sedang menderita. Ia harusnya berhati-hati dengan lisannya!".

Sebelumnya,  Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan dukungannya terhadap pasukan elite Garda Revolusioner dalam sebuah khotbah shalat Jumat setelah pengakuannya yang terlambat atas penembakan "tak sengaja" pesawat sipil Ukraina yang memicu protes jalanan selama tiga hari.

Dalam khotbah pertama kali dalam delapan tahun terakhir itu, ia juga mengatakan kepada makmum yang meneriakkan "Matilah Amerika" bahwa Garda elite itu dapat bertarung di luar perbatasan Iran setelah AS membunuh komandan militer tertinggi Iran.

Pernyataan Khamenei itu muncul di tengah krisis yang semakin mendera Iran saat negeri para mullah itu bergulat mengatasi keresahan di dalam negeri dan tekanan yang meningkat dari luar negeri.Ketegangan kian menguat sejak 2018 saar AS hengkang dari kesepakatan nuklir Teheran dengan negara besar dunia dan mengenakan kembali sanksi yang mengganggu perekonomian Iran.

Kebuntuan itu mengakibatkan saling balas dendam serangan militer bulan ini saat AS membunuh Qassem Soleimani dengan serangan pesawar niarawak pada 3 Januari dan Iran melontarkan roket ke pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari.

Dalam situasi tegang itu, pesawat Ukraina tertembak jatuh karena kesalahan. Namun perlu beberapa hari bagi pasukan Garda untuk mengakuinya dan pengunjuk asa melampiaskan amarah mereka kepada pasukan elite itu dan sistem keulamaan yang Iran pertahankan.

"Musuh-musuh kami....senang bahwa mereka menemukan alasan untuk merongrong pasukan Garda, angkatan bersenjata dan sistem kami," Khamenei mengatakan dalam khotbahnya, menyanjung Garda karena melindungi Iran dan memperbarui kembali seruannya bagi pasukan AS agar meninggalkan kawasan itu. Khamenei mengatakan pekerjaan Soleimani membangun pengaruh militer Iran di luar negeri akan berlanjut dan Pasukan Quds yang dipimpinnya "melindungi bangsa-bangsa tertindas sepanjang kawasan."

Dia mengatakan para prajurit Quds adalah " pejuang tanpa batas-batas".

Wakil Khusus Deplu AS untuk Iran, Brian Hook, mengatakan di Washington bahwa ancaman Iran menimbulkan risiko pengucilan lebih lanjut negeri itu.

Namun Rusia memberi dukungan terhadap Iran atas petaka pesawat, dengan mengatakan pesawat itu ditembak ketika Teheran ngeri atas laporan-laporan mengenai hadirnya pasukan siluman AS di wilayah itu

."Saya ingin menggarisbawahi kegelisahan yang selalu mengiringi situasi demikian," kata Menlu Sergei Lavrov.

Protes yang dipimpin mahasiswa merebak di Teheran dan kota-kota lain selama empat hari atas penembakan pesawat yang menewaskan semua penumpangnya sebanyak 176 yang sebagian besar orang Iran atau warganegara ganda ( Iran-Kanada).

Saat pengunjuk rasa ditangkapi, Trump mencuit dalam bahasa Persia dan Inggris untuk memberi dukungan kepada pemprotes yang meneriakkan "Matilah Khamenei" dan slogan menentang Garda.

Khamenei mengatakan dalam khotbahnya: "Badut-badut Amerika ini yang berdusta dan yang mengatakan mereka bersama rakyat Iran mestinya melihat siapa rakyat Iran sebenarnya."


 

Sumber : Reuters/Antara