Ada Keterlibatan Pembantu Dekat dalam Penangkapan Abu Bakar al-Baghdadi

Seorang pria yang diyakini sebagai pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi berbicara di sebuah masjid di Mosul, Irak, dalam sebuah foto yang diambil dari video yang ditayangkan di internet pada Sabtu (5/7/2014). - Reuters
28 Oktober 2019 09:57 WIB Denis Riantiza Meilanova News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sumber intelijen Irak mengungkapkan bahwa salah satu pembantu dekat Abu Bakar al-Baghdadi, Ismael al-Ethawi, menjadi kunci keberhasilan penangkapan pemimpin ISIS itu.

Setelah tertangkap pada Februari tahun lalu, Ethawi memberikan informasi kepada intelijen Irak mengenai bagaimana Baghdadi lolos dari penangkapan selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Reuters, Senin (28/10/2019), Ethawi membeberkan bahwa kadang-kadang Baghdadi mendiskusikan strategi dengan para komandannya di minibus pengangkut sayuran yang bergerak untuk menghindari deteksi.

"Ethawi memberikan informasi berharga yang membantu tim badan multi-keamanan Irak menyelesaikan potongan-potongan puzzle yang hilang dari pergerakan Baghdadi dan tempat-tempat yang biasanya digunakan untuk bersembunyi," kata salah seorang pejabat keamanan Irak.

"Ethawi memberi kami perincian tentang lima pria, termasuk dia, yang bertemu Baghdadi di Suriah dan berbagai lokasi yang mereka gunakan," katanya kepada Reuters.

Mengubah militan seperti Ethawi sangat penting bagi agen yang mencoba melacak Baghdadi.

Ethawi, yang memegang gelar PHD dalam Ilmu Pengetahuan Islam, dianggap oleh para pejabat intelijen Irak sebagai salah satu dari lima pembantu dekat Baghdadi. Menurut pejabat keamanan Irak, dia bergabung dengan Al Qaeda pada 2006 dan ditangkap oleh pasukan AS pada 2008 dan dipenjara selama 4 tahun.

Baghdadi kemudian menugaskan Ethawi dengan peran-peran kunci seperti memberikan instruksi keagamaan dan pemilihan komandan ISIS. Setelah kelompok itu sebagian besar hancur pada 2017, Ethawi melarikan diri ke Suriah dengan istrinya.

Titik balik lain datang awal tahun ini selama operasi bersama di mana agen intelijen Amerika Serikat, Turki, dan Irak menangkap para pemimpin senior ISIS, termasuk empat warga Irak dan satu warga Suriah, kata pejabat keamanan Irak.

"Mereka memberi kami semua lokasi di mana mereka bertemu dengan Baghdadi di dalam wilayah Suriah dan kami memutuskan untuk berkoordinasi dengan CIA untuk mengerahkan lebih banyak sumber di dalam area-area ini," kata salah seorang pejabat Irak, yang memiliki hubungan dekat dengan beberapa agen keamanan.

"Pada pertengahan 2019 kami berhasil menemukan Idlib sebagai tempat di mana Baghdadi pindah dari desa ke desa bersama keluarganya dan tiga pembantu dekatnya," kata pejabat itu.

Informan di Suriah kemudian melihat seorang pria Irak mengenakan hiasan kepala kotak-kotak di pasar Idlib dan mengenalinya dari sebuah foto, kata pejabat itu. Itu Ethawi, dan mereka mengikutinya ke rumah tempat Baghdadi tinggal.

"Kami menyerahkan detailnya ke CIA dan mereka menggunakan satelit dan drone untuk mengawasi lokasi selama lima bulan terakhir," kata pejabat itu.

Dua hari lalu, Baghdadi meninggalkan lokasi bersama keluarganya untuk pertama kalinya, bepergian dengan minibus ke desa terdekat.

"Itu adalah saat terakhirnya hidup," kata pejabat itu.

Pada Minggu (27/10/2019), Presiden AS Donald Trum mengonfirmasi kabar yang beredar bahwa Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi diyakini telah tewas dalam operasi militer AS di Suriah.

Trump menyampaikan terima kasih kepada pasukan yang sukses melakukan perburuan. Di sisi lain Trump menyebut Al Baghdadi sebagai pengecut.

Baghdadi telah lama dicari oleh Amerika Serikat, sebagai kepala kelompok jihadis yang sempat menguasai wilayah besar Suriah dan Irak, mendeklarasikan kekhalifahan.

Negara Islam atau ISIS telah melakukan kekejaman terhadap minoritas agama dan serangan di lima benua atas nama versi Islam ultra-fanatik yang membuat khawatir umat Islam arus utama.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia