Advertisement
Sejarah Tahun Baru, Dari Mesopotamia hingga Kalender Masehi
Kembang api malam pergantian tahun. - ilustrasi - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Perayaan Tahun Baru memiliki sejarah panjang sejak peradaban Mesopotamia kuno hingga ditetapkannya Kalender Masehi sebagai standar global.
Melansir data sejarah dari Ruangguru, perayaan tahun baru pertama kali tercatat sekitar tahun 2000 SM oleh bangsa Mesopotamia. Mereka merayakan Nowruz, sebuah festival untuk menyambut hari pertama musim semi sekitar tanggal 20 Maret, saat posisi matahari tepat berada di atas khatulistiwa.
Advertisement
Berbagai peradaban kuno lainnya juga memiliki cara dan waktu penetapan awal tahun yang berbeda-beda:
- Tiongkok Kuno: Merayakan tahun baru saat munculnya bulan baru kedua pada musim dingin setelah titik balik matahari.
BACA JUGA
- Babilonia: Menggelar festival keagamaan besar bernama "Akitu" untuk menghormati dewa-dewa mereka.
- Mesir Kuno: Menetapkan tahun baru bertepatan dengan dimulainya banjir tahunan Sungai Nil yang sangat krusial bagi pertanian mereka.
Revolusi Julius Caesar dan Penetapan 1 Januari
Penetapan resmi 1 Januari sebagai awal tahun baru dimulai pada masa pemerintahan Kaisar Romawi, Julius Caesar, tepatnya pada 1 Januari 46 SM.
Sebelumnya, kalender Romawi tradisional hanya terdiri dari 10 bulan (304 hari). Caesar kemudian melakukan reformasi besar-besaran dengan menambahkan bulan Januarius dan Februarius (Januari dan Februari).
Bekerja sama dengan ahli astronomi Sosigenes, Caesar menyempurnakan penanggalan berbasis revolusi bumi terhadap matahari. Ia menetapkan satu tahun terdiri dari 365 hari dengan penambahan satu hari (tahun kabisat) setiap empat tahun sekali. Inilah yang menjadi cikal bakal Kalender Julian.
Transformasi Menjadi Kalender Gregorian Global
Sistem penanggalan ini terus berevolusi hingga munculnya Kalender Masehi, yang dihitung berdasarkan tahun kelahiran Isa Al-Masih dan mulai diadopsi luas di Eropa Barat sekitar abad ke-8.
Pada tahun 1582, sistem ini disempurnakan menjadi Kalender Gregorian oleh Dr. Aloysius Lilius dan disahkan oleh Paus Gregorius XIII. Kalender inilah yang kini menjadi standar internasional yang digunakan hampir di seluruh dunia.
Kini, perayaan pada malam 31 Desember telah bertransformasi menjadi simbol universal. Selain sebagai pesta pergantian tanggal, momen ini dimaknai sebagai waktu untuk refleksi diri, memulai lembaran baru, serta membawa harapan untuk perkembangan yang lebih baik di tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Panic Buying di Jepang, Tisu Toilet Ludes Dipicu Konflik Timur Tengah
- Imbas Kasus Aktivis KontraS, Kabais TNI Serahkan Jabatan
- Krisis Pupuk Global Mengintai, Petani Indonesia Terancam
- Respons Yaqut Cholil Qoumas Seusai Diperiksa KPK Hari Ini
Advertisement
Pemkot Jogja Kaji WFH Bagi ASN Guna Tekan Biaya Operasional Kendaraan
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- UMKM Jadi Mesin Perputaran Uang Saat Libur Lebaran di Sleman
- Pembangunan Ratusan Sekolah Rakyat Dikebut, Ditarget Kelar Juli 2026
- Mobil Dinas Baru di Pemkab Gunungkidul Batal, Jalan Rusak Jadi Fokus
- Teh Bisa Kehilangan Manfaat Jika Dicampur Ini
- Ratusan Pemudik Pilih Balik Naik Kapal Perang dari Semarang
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- Arus Balik Mulai Padat di Bantul, Akses Parangtritis Diatur Satu Arah
Advertisement
Advertisement







