Tanggapi Kasus UAS, Rektor Universitas Ibnu Chaldun Sebut UGM Sudah Berkali-kali Menolak Acara Seminar

Ustaz Abdul Somad memberikan keterangan pers di Kantor MUI, Jakarta, Rabu (21/8/2019). - Suara.com/Arya Manggala
09 Oktober 2019 23:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Penolakan ustaz Abdul Somad oleh UGM untuk mengisi acara kuliah umum ditanggapi Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta Musni Umar. Diketahui, Ibnu juga pernah batal mengisi acara seminar yang membahas soal aksi 212 di UGM.

Mendengar nama Abdul Somad ditolak di UGM, Musni pun berkesempatan untuk mencurahkan pengalamannya. Kala itu ia hendak mengisi acara seminar di UGM. Pembahasan dalam acara seminar itu ialah soal aksi 212.

"Saya pernah alami, acara seminar yang membahas Aksi 212 di UGM dibatalkan," kata Musni melalui akun Twitternya @musniumar pada Rabu (9/10/2019).

Musni tidak menjelaskan alasan mengapa acara seminar itu dibatalkan. Akan tetapi ia menyebut kalau acara seminar itu akhirnya dipindahkan ke hotel yang terletak persis di depan UGM.

Dengan adanya pengalaman itu, tentu Musni kecewa dengan UGM. Menurutnya UGM tidak menerapkan kebebasan akademik di lingkungan kampus.

"Sebagai narasumber saya kecewa karena tidak ada kebebasan akademik di kampus," kata dia.

Sebelumnya, Kraton Yogyakarta juga tidak membolehkan Somad alias UAS dan Muslim United untuk memanfaatkan Masjid Gede Kauman sebagai lokasi ceramah, sehigga santer tersiar acara dipindah ke masjid kampus Universitas Gadjah Mada.

Namun, UGM ternyata juga menolak masjid miliknya digunakan oleh UAS untuk memberikan kuliah. Kepala Humas dan Protokol UGM Iva Ariani membenarkan pelarangan pengunaan masjid UGM untuk UAS.

"Berkaitan acara yang rencananya diselenggarakan tanggal 12 Oktober 2019, maka pimpinan universitas meminta agar acara tersebut dibatalkan," ujar Iva, Rabu (9/10/2019).

Menurut Iva, pelarangan tersebut dilakukan untuk menjaga keselarasan kegiatan akademik dan nonakademik dengan jati diri UGM. Kegiatan yang menampilkan UAS sebagai pembicara dimungkinkan tidak selaras dengan jati diri UGM.

Sumber : Suara.com