Advertisement
ExxonMobil Lanjut Operasi di RI sampai 2055, Ini Penjelasan ESDM
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A - YU
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA— Pemerintah Indonesia memastikan akan memperpanjang kerja sama pengelolaan minyak dan gas bumi dengan perusahaan energi asal ExxonMobil hingga tahun 2055. Perpanjangan kontrak ini disertai komitmen tambahan investasi senilai sekitar 10 miliar dolar AS.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan perpanjangan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi migas nasional sekaligus memperkuat kerja sama energi dengan Amerika Serikat.
Advertisement
“Kita akan memperpanjang kerja sama sampai 2055 dengan tambahan investasi kurang lebih 10 miliar dolar AS,” ujar Bahlil dalam jumpa pers virtual yang dipantau dari Jakarta, Jumat.
Menurut Bahlil, ExxonMobil merupakan salah satu kontributor utama produksi minyak nasional. Perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari satu abad itu menempati posisi kedua terbesar dalam kontribusi lifting minyak, setelah Pertamina.
BACA JUGA
“Produksi ExxonMobil berada di kisaran 170 ribu hingga 185 ribu barel per hari. Ini kontribusi yang sangat signifikan bagi lifting nasional,” katanya.
Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa perpanjangan kerja sama tersebut masih memerlukan penyelesaian sejumlah aspek teknis sebelum ditandatangani secara final. Salah satunya terkait pengaturan cost recovery antara bagian pendapatan negara dan porsi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S).
“Ada beberapa hal yang harus kita selesaikan lebih dulu, terutama soal pembagian cost recovery agar adil dan menguntungkan negara,” ujarnya.
Di sisi lain, perpanjangan kontrak ExxonMobil ini juga sejalan dengan kesepakatan dagang energi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Berdasarkan dokumen Agreement between the United States of America and the Republic of Indonesia on Reciprocal Trade, Indonesia menyepakati impor energi dari AS dengan nilai total sekitar 15 miliar dolar AS.
Nilai tersebut mencakup rencana pembelian liquefied petroleum gas (LPG) senilai 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah (crude oil) sebesar 4,5 miliar dolar AS, serta bensin hasil kilang (refined gasoline) senilai sekitar 7 miliar dolar AS.
Selain sektor migas, perjanjian resiprokal tersebut juga membuka ruang kerja sama pengembangan mineral kritis. Fokus kerja sama diarahkan pada penguatan investasi dan integrasi rantai pasok, khususnya di bidang pengolahan dan pemurnian mineral (processing and refining), tanpa mencantumkan kewajiban ekspor bahan mentah maupun nilai transaksi secara rinci.
Pemerintah menilai kerja sama energi dan mineral ini penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BPOM Selidiki Penjualan Tramadol Bebas di Warung-Warung
- KPK Periksa Budi Karya Sumadi Terkait Dugaan Korupsi Proyek Kereta Api
- Prabowo: Indonesia Aman Pangan di Tengah Krisis Global
- Longsor Sampah Bantargebang: 2 Korban Lagi Ditemukan Meninggal
- Pecah Kongsi, AS Kecewa Serangan Israel ke Depot BBM Iran
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Ketua Paguyuban Prediksi Puncak Belanja Lebaran Beringharjo pada H-3
- Menteri ESDM, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik hingga Lebaran 2026
- Pelecehan Siswa SLB Belum Ada Tersangka Polresta Jogja Tunggu Psikolog
- AJI Yogyakarta Buka Posko Aduan THR Jurnalis di DIY
- Iran Klaim Sukses Luncurkan Rudal Hipersonik Operasi Janji Sejati 4
- Ahli Onkologi Ungkap Fakta Skincare yang Picu Risiko Kanker
- ASN di DIY Dilarang Gunakan Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran
Advertisement
Advertisement








