Selesai 2045, Ibu Kota Baru Berbasis Forest City

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) memaparkan rencana pemindahan ibu kota dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (6/5/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
02 Agustus 2019 05:37 WIB Gloria Fransisca Katharina Lawi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Pemindahan ibu kota Jakarta ke lokasi baru diharapkan selesai pada 2045. Pemerintah menargetkan pembangunan tersebut bisa dimulai pada 2021. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro menyatakan ada tiga tahapan pembangunan ibu kota berbasis forest city.

"Karena lokasi di Kalimantan maka konsepnya bukan hanya garden city tetapi forest city. Bagaimanapun kalimantan adalah paru-paru dunia," jelas Bambang di Kantor Bappenas dalam Dialog Nasional, Kamis (1/8/2019).

Adapun tahap pertama pada 2021-2024 pemerintah menargetkan pembangunan antara lain; istana, kantor lembaga negara terdiri dari legislatif, eksekutif, dan yudikatif, selain itu juga taman budaya dan botanical garden.

Tahap kedua pada 2025-2029, perumahan ASN, TNI, dan Polri. Lalu fasilitas pendidikan, diplomatic compound, hightech and clean industries, R&D Center, MICE Convention Center, Sport Center, Museum, Shopping Mall, dan Pangkalan Militer.

Tahap ketiga pada 2030-2045, tahap akhir dilengkapi national park, konservasi orang utan, klaster pemukiman non-ASN, metropolitan, dan wilayah pengembangan terkait dengan wilayah provinsi sekitarnya.

"Ibu kota harus merepresentasikan ibu kota bangsa, baik dari monumennya, museum maupun galeri budaya. Sifatnya juga harus inklusif atau terbuka untuk semua tidak boleh ada pembatasan," terang Bambang. 

Bambang memprediksi dalam 10 tahun ke depan sebagai pusat pemerintahan kota ini sudah mendekati 1 juta sampai 1,5 juta orang.

Guna menghindari over population, dia memastikan kota ini hanya akan fokus pada pusat pemerintahan. 

"Kota ini fokusnya pusat pemerintahan. Jadi dia tidak akan saingi Jakarta," ungkap Bambang.

Untuk mengukuhkan rencana ini, Bambang menyebut revisi UU ibu kota akan segera diajukan pemerintah ke DPR.

Bambang menyebut dengan pemindahan ibukota ini secara nasional pertumbuhan ekonomi bisa naik pada kisaran 0,1% sampai 0,2%. 

Sementara itu Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia Bernardus Djonoputro menyatakan perencanaan pembangunan ibu kota ini perlu melihat pedoman pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). 

Menurut Bernardus ada beberapa konsep forest city yang bisa menjadi contoh. Misalnya di London, gerakan masyarakat lokal mengampanyekan London National Park City. 

"Bukan taman kota tapi mendeklarasikan seluruh kota di London menjadi taman," jelasnya.

Beberapa hal lain terkait perencanaan pembangunan yang harus diperhatikan adalah kondisi geografis dan geologis Kalimantan dengan curah hujan yang tinggi.

"Aset biodiversity jadi penting. Bagaimana desain Kota Khatulistiwa 28-30 derajat dengan rainfall 4 ribu mm. Ini sangat pengaruh ke desain," papar Bernardus.

Oleh sebab itu dengan menggerakkan pembangunan berbasis konsep SDG, Indonesia bisa unggul dalam Global Urban New Agenda.

Sumber : bisnis.com