Advertisement
Perang Saudara di Sudan Terus Berlanjut
Ilustrasi konflik (Freepik)
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Eskalasi perang saudara di Sudan kembali memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil. Sebuah serangan drone menghantam kerumunan di pasar Al-Safiya, Kota Sodari, wilayah Kordofan Utara, pada Minggu (15/2/2026) dan menewaskan sedikitnya 28 orang serta melukai puluhan lainnya.
Laporan Agence France-Presse (AFP) menyebutkan serangan terjadi saat pasar dalam kondisi padat, dengan korban terdiri atas perempuan, anak-anak, dan lansia. Kelompok pemantau Emergency Lawyers mengecam penggunaan pesawat nirawak di kawasan padat penduduk dan menilai tindakan tersebut menunjukkan pengabaian serius terhadap keselamatan warga sipil.
Advertisement
Kordofan Jadi Medan Pertempuran Strategis
Kekerasan di wilayah Kordofan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Sepekan sebelum tragedi di Sodari, serangan serupa dilaporkan menewaskan 24 pengungsi di dekat Rahad, delapan di antaranya anak-anak. Bahkan, konvoi bantuan kemanusiaan milik World Food Programme (WFP) juga dilaporkan menjadi sasaran sehari sebelumnya.
BACA JUGA
Wilayah Kordofan kini menjadi garis depan pertempuran antara Sudan Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF). Perebutan jalur logistik yang menghubungkan Darfur dengan Ibu Kota Khartoum memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat distribusi bantuan pangan.
Puluhan Ribu Tewas, Jutaan Mengungsi
Konflik yang pecah sejak April 2023 itu telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan memaksa sekitar 12 juta warga mengungsi. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mencatat sekitar 6.000 orang dilaporkan hilang hanya dalam tiga hari ketika RSF menyerbu wilayah Darfur pada Oktober tahun lalu.
Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya penggunaan drone yang menargetkan warga sipil. Ia menilai situasi di Kordofan sangat tidak stabil, terlebih karena wilayah tersebut kaya sumber daya alam seperti minyak dan emas yang menjadi rebutan pihak-pihak bertikai.
Lebih dari 30 negara telah menyerukan penghentian kekerasan. Komunitas internasional mengkhawatirkan stabilitas kawasan akan semakin runtuh jika serangan terhadap fasilitas publik dan konvoi kemanusiaan terus terjadi tanpa adanya gencatan senjata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Prabowo Perintahkan Polri Usut Tuntas Penyiraman Andrie Yunus
- Polisi Didesak Tangkap Dalang Teror Penyiram Air Keras Aktivis
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ingatkan Risiko Serius
- Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Dinilai Ancam Demokrasi
Advertisement
Mudik Lebaran 2026: Penumpang Terminal Giwangan Jogja Naik 15 Persen
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Iran Ancam Balas Dendam Jika AS Berani Incar Mojtaba Khamenei
- Bulog Banyumas Guyur Bantuan Pangan untuk Warga di Banyumas Raya
- Info Mudik 2026, Puluhan Ribu Orang Mulai Tinggalkan Bali Menuju Jawa
- Konsumsi Multivitamin Harian Berpotensi Memperlambat Penuaan
- Pantauan Jalur Selatan Jateng Pemudik Mulai Padati Simpang Wangon
- Anggaran MBG Tembus Rp19 Triliun per Bulan, Ini Datanya
- AS Tarik 2.000 Marinir dari Jepang, Perkuat Serangan Lawan Iran
Advertisement
Advertisement







