Advertisement

Perang Saudara di Sudan Terus Berlanjut

Jumali
Jum'at, 20 Februari 2026 - 09:07 WIB
Jumali
Perang Saudara di Sudan Terus Berlanjut Ilustrasi konflik (Freepik)

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Eskalasi perang saudara di Sudan kembali memakan korban jiwa dari kalangan warga sipil. Sebuah serangan drone menghantam kerumunan di pasar Al-Safiya, Kota Sodari, wilayah Kordofan Utara, pada Minggu (15/2/2026) dan menewaskan sedikitnya 28 orang serta melukai puluhan lainnya.

Laporan Agence France-Presse (AFP) menyebutkan serangan terjadi saat pasar dalam kondisi padat, dengan korban terdiri atas perempuan, anak-anak, dan lansia. Kelompok pemantau Emergency Lawyers mengecam penggunaan pesawat nirawak di kawasan padat penduduk dan menilai tindakan tersebut menunjukkan pengabaian serius terhadap keselamatan warga sipil.

Advertisement

Kordofan Jadi Medan Pertempuran Strategis

Kekerasan di wilayah Kordofan meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Sepekan sebelum tragedi di Sodari, serangan serupa dilaporkan menewaskan 24 pengungsi di dekat Rahad, delapan di antaranya anak-anak. Bahkan, konvoi bantuan kemanusiaan milik World Food Programme (WFP) juga dilaporkan menjadi sasaran sehari sebelumnya.

Wilayah Kordofan kini menjadi garis depan pertempuran antara Sudan Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF). Perebutan jalur logistik yang menghubungkan Darfur dengan Ibu Kota Khartoum memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat distribusi bantuan pangan.

Puluhan Ribu Tewas, Jutaan Mengungsi

Konflik yang pecah sejak April 2023 itu telah menewaskan lebih dari 40.000 orang dan memaksa sekitar 12 juta warga mengungsi. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mencatat sekitar 6.000 orang dilaporkan hilang hanya dalam tiga hari ketika RSF menyerbu wilayah Darfur pada Oktober tahun lalu.

Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya penggunaan drone yang menargetkan warga sipil. Ia menilai situasi di Kordofan sangat tidak stabil, terlebih karena wilayah tersebut kaya sumber daya alam seperti minyak dan emas yang menjadi rebutan pihak-pihak bertikai.

Lebih dari 30 negara telah menyerukan penghentian kekerasan. Komunitas internasional mengkhawatirkan stabilitas kawasan akan semakin runtuh jika serangan terhadap fasilitas publik dan konvoi kemanusiaan terus terjadi tanpa adanya gencatan senjata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal SIM Keliling di Bantul, Jumat 20 Februari 2026

Jadwal SIM Keliling di Bantul, Jumat 20 Februari 2026

Bantul
| Jum'at, 20 Februari 2026, 07:57 WIB

Advertisement

Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan

Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan

Wisata
| Senin, 16 Februari 2026, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement