Advertisement
Jalankan Proyek Kereta Cepat, Wika Berpeluang Raih Pendapatan Rp9,5 Triliun
Foto udara proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung di perkebunan teh Maswati, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (6/2/2018). - ANTARA/Raisan Al Farisi
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. menargetkan pendapatan Rp9,5 triliun dari proyek kereta cepat Jakarta—Bandung yang progresnya diproyeksikan mencapai 60% akhir tahun ini.
Mahendra Vijaya, Corporate Secretary Wijaya Karya menuturkan progres pembangunan kereta cepat Jakarta—Bandung saat ini sudah 23%. Pekerjaan yang tengah dilakukan di antaranya terowongan atau tunnel di Walini dan Halim.
Advertisement
Mahendra menargetkan progres pekerjaan bisa mencapai 60% pada akhir 2019. Dengan demikian, proyek kereta cepat Jakarta—Bandung dapat berkontribusi terhadap kinerja keuangan perseroan.
“Sehingga bisa menyumbang kontribusi produksi [pendapatan] Rp9,5 triliun sampai akhir tahun ini,” ujarnya kepada JIBI/Bisnis, Kamis (11/7/2019).
BACA JUGA
Selain Wijaya Karya, dia mengungkapkan tambahan pendapatan juga akan didapatkan oleh entitas anak perseroan, PT Wijaya Karya Beton Tbk. Produsen beton itu menurutnya akan membukukan tambahan pendapatan Rp1,5 triliun dari proyek kereta cepat Jakarta—Bandung tahun ini.
Seperti diketahui, proyek kereta cepat Jakarta—Bandung serta pengembangan sentra ekonomi koridor Jakarta—Bandung merupakan tindak lanjut dari dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Api Cepat antara Jakarta dan Bandung pada 6 Oktober 2015.
Proyek kereta cepat Jakarta—Bandung digarap oleh konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Entitas itu merupakan gabungan antara PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan 60% dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd . 40%.
Adapun, PSBI beranggotakan Wijaya Karya dengan porsi kepemilikan 38%, PT Kereta Api Indonesia (Persero) 25%, PT Perkebunan Nusantara VIII 25%, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. 12%.
Mahendra menambahkan pencairan pinjaman untuk KCIC dari China Development Bank (CDB) sudah mencapai US$1,1 miliar. Menurutnya, saat ini tidak ada masalah untuk pendanaan proyek kereta cepat Jakarta—Bandung.
Sebagai catatan, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure Rp18,19 triliun pada 2019. Dana itu akan difokuskan untuk proyek investasi di bidang energi dan industrial plant, gedung dan properti, serta infrastruktur.
Dari situ, Manajemen WIKA membidik penjualan Rp42,13 triliun tahun ini atau tumbuh 35,22% dari Rp31,16 triliun pada 2018. Sementara itu, laba bersih ditargetkan mencapai Rp3,01 triliun pada 2019 atau tumbuh 45,20% dibandingkan dengan realisasi per 31 Desember 2018.
Sampai dengan pertengahan Juni 2019, WIKA telah merealisasikan kontrak baru Rp13,9 triliun. Jumlah itu setara dengan 22,51% dari target Rp61,74 triliun tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Atraksi Naik Gajah Dilarang, Warga Diminta Melapor
- Kemensos Benahi PBI BPJS Kesehatan, 54 Juta Warga Belum Terdaftar
- Survei Indikator: TNI Jadi Lembaga Paling Dipercaya Januari 2026
- Pandji Dijadwalkan Jalani Peradilan Adat Toraja 10 Februari 2026
- Datangi Rumah Duka YB, Gubernur NTT: Negara Lalai Lindungi Anak Miskin
Advertisement
2.666 PBI Nonaktif Jogja Ajukan Reaktivasi BPJS Kesehatan
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Padat Karya Sleman 2026 Anggarkan Rp19,1 Miliar, Serap 5.024 Pekerja
- Indonesia Kirim Tiga Wakil ke German Open 2026 Jelang Tur Eropa
- Indonesia Bidik Tuan Rumah Piala Dunia Futsal 2028
- Dinar Candy Tunda Tampil di Malang, Hormati Peringatan 1 Abad NU
- Indonesia Lolos ke Putaran Final Davis Cup 2026
- Mobil Listrik Perdana Karya Siswa SMKN 2 Wonosari Tampil di Smakadano
- Thailand Kembali Mencoblos di Tengah Krisis Politik Berkepanjangan
Advertisement
Advertisement



