Dubes Inggris Untuk AS Mengundurkan Diri Gara-Gara Memo Rahasia

Bendera Inggris - JIBI/Bisnis.com
10 Juli 2019 23:47 WIB Denis Riantiza Meilanova News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat (AS) Kim Darroch mengundurkan diri Rabu (10/7/2019), setelah Presiden AS Donald Trump melabelinya dengan kata-kata bodoh dan sinting. Skandal ini mengemuka menyusul bocornya memo rahasia Darroch yang menyebut pemerintahan Trump disfungsi dan tidak layak.

Dalam surat pengunduran dirinya, Darroch mengatakan posisinya tidak lagi dapat dipertahankan.

"Sejak bocornya dokumen resmi dari kedutaan besar ini, ada banyak spekulasi seputar posisi saya dan lamanya masa jabatan saya sebagai duta besar," tulisnya, dikutip dari Reuters, Rabu (10/7/2019).

"Saya ingin mengakhiri spekulasi itu. Situasi saat ini membuat saya tidak mungkin menjalankan peran saya seperti yang saya inginkan," lanjutnya.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan kepada parlemen bahwa para menteri telah menyatakan dukungan mereka untuk Darroch, seorang diplomat karier yang dijadwalkan meninggalkan jabatannya pada akhir tahun.

"Saya telah mengatakan kepadanya bahwa ini adalah masalah penyesalan besar bahwa dia merasa perlu untuk meninggalkan posisinya sebagai duta besar untuk Washington," katanya. "Seluruh kabinet memberikan dukungan penuh kepada Kim pada Selasa."

Melalui serangkaian kabel diplomatik dan memo yang dikutip surat kabar Daily Mail, Darroch menyebut Trump “tak layak” dan “tak kompeten”. Selain itu, Trump dikatakan kerapkali mengatasi kehidupan yang diganjal skandal.

Tak hanya tentang Trump, surat kabar itu juga melaporkan bahwa dalam memo-memo itu Darroch menggambarkan Gedung Putih disfungsional, mengalami banyak konflik yang diibaratkannya sebagai “perkelahian dengan pisau”.

Kebocoran itu terjadi setelah Trump mengunjungi Inggris pada awal Juni untuk bertemu Ratu Elizabeth II dan Perdana Menteri Theresa May.

Kantor Luar Negeri Inggris tidak membantah keakuratan memo-memo tersebut. Seorang juru bicara Kantor Luar Negeri Inggris menggambarkan kebocoran itu lebih merupakan "perilaku iseng" dan berdalih bahwa para diplomat mereka dibayar untuk bersikap apa adanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia