AS-China Sepakati Gencatan Senjata di Perang Dagang

Presiden AS Donald Trump (kiri) menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perdagangan kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque
01 Juli 2019 04:57 WIB Nirmala Aninda News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Babak baru perundingan dagang Amerika Serikat dan China ditandai kesepakatan kedua negara untuk "gencatan senjata" dalam perang dagang.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan menunda pemberlakuan tarif tambahan terhadap impor China senilai US$300 miliar. Dua negara ekonomi terbesar di dunia itu pun setuju untuk melanjutkan negosiasi.

Setelah pertemuan dengan Presiden Cina Xi Jinping berakhir, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia juga akan menunda pembatasan terhadap Huawei Technologies Co. Trump menyatakan pemerintah membuka kembali akses bagi perusahaan-perusahaan AS melanjutkan penjualan kepada produsen peralatan telekomunikasi terbesar di China tersebut.

"Pertemuan saya dengan Presiden Xi berjalan lebih baik dari yang diperkirakan. Saya sepakat untuk tidak menaikkan tarif eksisting sambil melanjutkan negosiasi...", ujar Trump melalui akun Twitternya, seperti dikutip pada Minggu (30/6/2019).

Trump membeberkan kesepakatan itu di akhir agenda KTT G20 di Osaka, Jepang, sebelum menuju ke Seoul. 

Dilansir melalui Bloomberg, Gedung Putih tidak merilis rincian tentang pengaturan yang dilakukan oleh kedua pemimpin. 

Namun, pernyataan Trump dianggap dapat menghilangkan ancaman langsung dari perang dagang yang membayangi ekonomi global, bahkan ketika pasar khawatir kondisi ini akan berlangsung lama.

Setelah Trump dan Xi bertemu di G20, kedua kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut berencana memulai kembali pembicaraan perdagangan yang sempat terhenti bulan lalu.

Trump mengatakan Xi berjanji untuk membeli produk pertanian AS dalam jumlah besar, tetapi laporan media resmi China mengatakan hal tersebut hanyalah harapan Trump sebagai bagian dari gencatan senjata.

Keputusan untuk bersikap lebih lunak terhadap tarif disampaikan kurang dari dua pekan setelah Trump secara resmi memulai masa persiapan menjelang pemilihan umum 2020.

Pada acara kampanye 18 Juni di Florida, Trump mengatakan langkah tegas AS telah mengalirkan dana miliaran ke Departemen Keuangan dan mendorong perusahaan AS untuk meninggalkan China agar terhindar dari kebijakan tarif.

Dimulainya kembali perundingan AS-China disambut baik dunia.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Christine Lagarde memperingatkan bahwa ekonomi global berada pada kondisi terlemah dengan masalah perdagangan yang belum terselesaikan dan menimbulkan risiko paling serius untuk masa depan.

"Tarif yang sudah diterapkan menahan [pertumbuhan] ekonomi global, dan masalah-masalah yang belum terselesaikan membawa banyak ketidakpastian tentang masa depan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

AKSES HUAWEI

Pada saat yang sama, Trump juga membuka kembali akses Huawei terhadap pemasok mereka di AS, setelah memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam pada bulan lalu atas alasan ancaman keamanan nasional.

Pemerintahan Trump bahkan bertindak jauh dengan melobi para sekutu di seluruh dunia untuk tidak membeli peralatan Huawei, yang menurut AS dapat digunakan sebagai alat spionase Beijing.

Huawei dengan tegas membantah tuduhan tersebut. 

Pemerintahan China berulang kali meminta agar Huawei dihapus dari daftar hitam Departemen Perdagangan AS sesegera mungkin dan menuduh AS menggunakan kekuatan negara secara tidak adil untuk melecehkan perusahaan swasta.

"Perusahaan-perusahaan AS dapat menjual peralatan mereka ke Huawei. Kami berbicara tentang alat-alat, di mana tidak ada masalah keamanan nasional yang terkait produk tersebut," kata Trump.

Kembalinya Trump dan Xi ke meja perundingan mengakhiri kebuntuan selama enam pekan terakhir yang telah membuat perusahaan dan investor gelisah.

Setidaknya, untuk sementara waktu kelanjutan ini akan meredakan kekhawatiran bahwa dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut tidak akan menuju perang dingin baru

Namun, belum ada kejelasam apakah mereka dapat mengatasi perbedaan yang menyebabkan runtuhnya gencatan senjata sebelumnya yang dicapai di G20 pada bulan November.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia