Satpam SPPG Kecandran Salatiga Ditemukan Meninggal Saat Pergantian Jaga
Satpam SPPG Kecandran Salatiga ditemukan meninggal di ruang jaga saat pergantian tugas. Polisi menduga korban meninggal karena sakit.
Wakapolres Wonogiri Kompol Aidil Fitri (kiri) didampingi Kasatreskrim AKP Aditia Mulya Ramdhani (tengah) dan Paur Subag Humas Aipda Iwan Sumarsono memberi keterangan kepada wartawan di Mapolres Wonogiri, Kamis (18/4/2019). (Solopos-Rudi Hartono)
Harianjogja.com, WONOGIRI -- Sejumlah fakta baru terkait kasus pembunuhan terhadap Sugimin, 52, calon anggota legislatif (caleg) DPRD Sragen dari Partai Golkar terungkap. Pembunuhan itu diduga dilakukan seorang wanita asal Wonogiri berinisial N, 41.
Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani mendampingi Wakapolres Wonogiri Kompol Aidil Fitri menyampaikan berdasarkan hasil penyelidikan, N telah merencanakan pembunuhan terhadap Sugimin sejak Kamis (11/4/2019) atau lima hari sebelum korban meninggal dunia.
"Selama lima hari itu korban Sugimin bersama terus dengan N," ungkap Kasatreskrim saat dijumpai wartawan di Mapolres Wonogiri, Kamis (18/4/2019).
Dia menambahkan saat awal bertemu N, korban mengeluh diare. N kemudian punya ide melancarkan aksinya meracuni Sugimin dengan sarana kapsul obat diare. Pada aksinya yang pertama, N memberikan kapsul kepada Sugimin yang isinya sudah diganti dengan racun.
"Korban meminumnya lalu merasakan sakit," ungkap Kasatreskrim. Pelaku yang merasa kasihan kemudian membawa Sugimin ke sebuah rumah sakit swasta di Wonogiri. Setelah kondisinya membaik, Sugimin kembali bersama N.
Namun beberapa waktu kemudian N kembali memberikan kapsul berisi racun tikus kepada Sugimin. Korban lagi-lagi mengeluhkan sakit dan oleh N dibawa ke RS dr Oen Solo Baru. Kemungkinan, N masih tidak tega dengan kondisi Sugimin yang kesakitan.
Setelah kondisinya membaik, Sugimin keluar dari rumah sakit bersama N. Ternyata niatan N tidak surut dan untuk kali ketiga dia memberikan kapsul berisi racun tikus kepada Sugimin.
"Kali ini korban dikasih racun lagi tapi setelah itu tidak langsung dibawa ke RS," ungkap Kasatreskrim. N justru membawa korban berkeliling memakai taksi online. Dalam perjalanan korban sekarat dan tak sadarkan diri.
Aditia menambahkan pelaku ketakutan melihat kondisi korban lalu menghubungi rekannya Mugiono (sebelumnya disebut dengan inisial Mo). N meminta Mugiono menjemput korban di suatu tempat di Wonogiri dan membawanya ke IGD rumah sakit.
Mugiono yang tidak mengetahui penyebab korban tak sadarkan diri datang bersama anaknya, N, menjemput Sugimin dan membawanya ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso. N juga merancang cerita dan meminta Mugiono agar menyampaikan kepada petugas IGD bahwa korban ditemukan sudah sakit di depan toko Mugiono di utara SMPN 1 Wonogiri.
Sejauh ini polisi baru menetapkan N sebagai tersangka dalam kasus ini. Sedangkan Mugiono dan N sebagai saksi.
Diberitakan sebelumnya, Sugimin ditemukan dalam keadaan sakit di depan ruko SMPN 1 Wonogiri, Senin (15/4/2019) malam. Warga yang menemukan Sugimin kemudian membawanya ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri dan saat diperiksa dokter ternyata sudah meninggal dunia. Keluarga Sugimin yang curiga karena banyak kejanggalan meminta agar jasad Sugimin diautopsi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpam SPPG Kecandran Salatiga ditemukan meninggal di ruang jaga saat pergantian tugas. Polisi menduga korban meninggal karena sakit.
Kadin DIY menyebut kekuatan ekonomi Jogja sebagai “tambang ide”. Riset kampus didorong terhubung dengan industri dan pasar.
Kemenhub mencatat 409 penerbangan terdampak karhutla di Kalimantan pada 14-20 September 2026, naik dari 159 penerbangan
Aldo korban KM Virgo sempat keluar kapal sebelum kembali mengambil tas dan menunggu temannya. Jenazahnya ditemukan setelah 10 hari pencarian.
KPK memeriksa Presiden Komisaris Tempo Scan Group Handojo Selamet Muljadi terkait dugaan pemberian kepada oknum di Imipas.
TNI AU melakukan uji coba terjun payung dari Airbus A400M dalam latihan bersama Angkatan Udara Prancis pada Misi Pegase 2026 di Halim.