Prabowo Umumkan Petinggi Parpol yang Jadi Menterinya, TKN: Blunder

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) menyampaikan orasi politiknya dalam kampanye terbuka di lapangan Kompyang Sujana, Denpasar, Selasa (26/3/2019). - ANTARA/Nyoman Budhiana
29 Maret 2019 09:47 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Baru-baru ini, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto memperkenalkan calon menteri dari petinggi partai politik pendukungnya jika ia terpilih menjadi presiden nanti. Menanggapi itu, juru bicara PSI sekaligus influencer TKN Jokowi-Ma'ruf Rian Ernest menilai hal itu blunder.

Sebelumnya, Prabowo terang-terangan menyebut Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Presiden PKS Sohibul Iman, Petinggi PAN Zulkifli Hasan dan Eddy Soeparno, serta mantan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan sebagai calon menteri dalam orasinya di Stadion Sidolig, Bandung, Jabar, Kamis (28/3/2019).

Prabowo mengatakan nama-nama tersebut diungkap untuk menegaskan kepada masyarakat bahwa mereka tidak 'membeli kucing dalam karung' apabila memilih Prabowo-Sandi. Pasalnya, nama-nama yang akan menjadi menteri tersebut sudah terbukti memiliki banyak prestasi.

"Kami apresiasi bahwa Pak Prabowo akhirnya menanggapi isu ‘jangan beli kucing dalam karung’. Sayangnya, bukan itu yang ditanyakan oleh rakyat," ungkap Rian kepada Bisnis.

Menurutnya, yang mesti disampaikan Prabowo adalah ide dan gagasan agar rakyat tahu solusi yang ditawarkannya sebagai calon pemimpin secara jelas.

"Ini malah jadi blunder Prabowo yang kesekian kalinya. Dari hoaks operasi plastik, kini rakyat diberikan politik dagang sapi," ujar Rian.

Selain itu, dengan Prabowo menyebut calon menterinya yang berasal dari petinggi partai politik (parpol), dia menilai hal ini justru mencerminkan adanya transaksi politik antar elit parpol di kubunya. Terlebih, beberapa calon menteri yang disebut calon presiden (capres) nomor urut 02 itu ada yang minim pengalaman dan bahkan ada yang terjerat korupsi menerbitkan izin ribuan hektare (ha) untuk perusahaan besar.

"Malahan klaim menteri-menteri dari para petinggi parpol pendukung ini bukan menjawab ‘kucing dalam karung’. Ini malah jadi ‘politik dagang sapi’! Politik bagi jatah kursi, bukan menteri diberikan ke orang yang kompeten," ucapnya.

Sumber : Bisnis.com