FEATURE: Di Stasiun Wojo Tergantung Asa Warga Purworejo

Kondisi Stasiun Wojo, di Dusun Kuwojo, Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jumat (1/2/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
06 Februari 2019 07:40 WIB Jalu Rahman Dewantara News Share :

Harianjogja.com, PURWOREJO—Stasiun Wojo dijadikan sebagai salah satu akses menuju ke New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA). Ini) menjadi harapan masyarakat sekitar akan kebangkitan perekonomian bagi mereka. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Jalu Rahman Dewantara.

Sejak mendengar kabar Stasiun Wojo, di Dusun Kuwojo, Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, bakal digunakan sebagai tempat transit para penumpang pesawat di NYIA, Satiyem, 73, menyulap rumahnya yang berjarak kurang dari 20 meter dari stasiun tipe III itu

menjadi warung sederhana.

Warung yang berlokasi di timur jalan antara stasiun dan jalan nasional Purworejo-Jogja itu menyediakan aneka gorengan, makanan ringan dan minuman. Berdinding kayu dengan cat hijau, warung ini berdiri sendiri tanpa ada hunian di samping kanan-kirinya.  

Keputusan membuka warung ini bukan tanpa alasan. Satiyem mengaku ingin kembali turut serta menikmati masa jaya saat Stasiun Wojo di masa lampau. Dia mengenang, dahulu orang tuannya sempat membuka usaha serupa.

Usaha itu menurutnya laris manis, karena berdasarkan ingatan Satiyem, saat itu stasiun masih ramai dikunjungi masyarakat. Keramaian ini tak lepas dari pasar yang berada di seberang jalan nasional Purworejo-Jogja atau tepat di sebelah pertigaan jalan menuju Stasiun Wojo yang saat itu masih berdiri.

“Dahulu masih ramai, mulai dari anak sekolah sampai orang tua ke sini, bahkan banyak warung juga. Kalau tidak salah karena stasiun masih digunakan sebagai tempat naik turun penumpang, a. Ada pasarnya juga,” kata Satiyem sembari memastikan ingatannya tersebut kepada Harian Jogja, Jumat (1/2/2019).

Namun aktivitas menaikturunkan penumpang di Stasiun Wojo kemudian terhenti. Disusul lahan pasar dialihfungsikan menjadi Puskesmas Rawat Inap Desa Dadirejo. Akibatnya memaksa usaha keluarga Satiyem harus rehat karena sepinya kunjungan masyarakat. “Enggak tahu kenapa enggak difungsikan lagi, jadinya sepi dan kami memilih tutup [warung],” kata Satiyem.

Berdasarkan dokumen Bukti Pertimbangan Tata Ruang Daerah Dalam Puskesmas dan Rasio Jumlah Kependudukan Ketersediaan Layanan Kecamatan Bagelen yang diperoleh Harian Jogja, Puskesmas Rawat Inap Desa Dadirejo didirikan pada 1986. Sementara menyoal berhentinya aktivitas menaikturunkan penumpang di Stasiun Wojo belum diperoleh sumber pastinya.

Terlepas dari itu, asa Satiyem untuk kembali membuka usahanya bangkit setelah memperoleh informasi Stasiun Wojo bakal beroperasi seperti sedia kala. Informasi ini diperolehnya dari para kerabatnya.

Awalnya, dia mengaku sempat sangsi karena mengira hal itu hanya bualan semata. Namun kemudian ia mulai yakin saat sejumlah pria mendatangi Stasiun Wojo untuk melakukan proses merenovasi pada Senin (28/1/2019).

“Ya awalnya enggak percaya, tapi kok ada pekerja ke sini, dan pas saya tanya katanya buat merenovasi stasiun biar bisa jadi transit penumpang pesawat, dari situ saya mulai aktif buka lagi, karena para pekerja kadang jajan ke sini,” ujarnya.

Satiyem berharap dalam proses renovasi ini, masyarakat sekitar khususnya para pelaku usaha sepertinya tetap diperhatikan. Jika nanti harus tergusur akibat revitalisasi tersebut, dia mengaku tak masalah, selama mendapat ganti lokasi untuk berjualan. "Ya mau gimana lagi, saya ini sudah tua, bisanya kerja di rumah lewat jualan, semoga ada perhatian," ujarnya.

Sekretaris Daerah Purworejo, Said Romadhon, menyatakan dijadikannya Stasiun Wojo sebagai transit penumpang NYIA membuka harapan besar bagi masyarakat Purworejo untuk dapat menikmati untung. Salah satunya dengan memasarkan produk khas Tanah Bagelen kepada para penumpang.

"Yang jelas banyak multiplayier effects-nya, terutama secara ekonomi di antaranya itu, produk lokal dapat dipasarkan juga," ucapnya.

Cagar Budaya

Berdasarkan papan keterangan sejarah perkeretaapian di Stasiun Purworejo, bangunan Stasiun Wojo dibangun di pada masa Hindia Belanda. Stasiun yang terletak di tenggara Purworejo dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kulonprogo itu didirikan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Jogja-Maos.

Pengerjaan rel kereta itu dikerjakan perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen Tramwegen in Nederlandsch–Indië (SS en T)(SS) pada 1877 sebagai lanjutan dari proyek jalur Solobalapan-Jogja.

Meski termasuk saksi bisu sejarah Bangsa Indonesia, bangunan Stasiun Wojo belum termasuk dalam cagar budaya. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo, Agung Wibowo, menyatakan Stasiun Wojo memang merupakan peninggalan kolonial, tapi belum tercatat sebagai cagar budaya tanpa menjelaskan alasannya. Kendati demikian dia memastikan stasiun itu bakal didata sebagai cagar budaya dan dikoordinasikan dengan Balai Cagar Budaya. “Nanti kami data,” katanya.

Merujuk dokumen buku Informasi Perkeretaapian 2014, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Stasiun Wojo merupakan stasiun kereta api kelas III dalam Daerah Operasi 6 Jogja yang hanya bakal menaikturunkan penumpang jika terjadi persusulan antarkereta api. Selebihnya tidak ada kereta api yang berhenti di stasiun itu meski memiliki tiga jalur dengan jalur satu dan dua sebagai sepur lurus.

Akibat dari tidak adanya aktivitas menaikturunkan penumpang membuat stasiun ini sepi yang berimbas pada tutupnya sejumlah warung di sekitar stasiun. Namun, kondisi tersebut tampaknya bakal berubah setelah adanya NYIA beroperasi. Sebab pada  akhir 2018 saat meninjau progres pembangunan NYIA di Temon, Dirjen Perkeretaapian, Zulfikri, memastikan bakal melakukan merevitalisasi Stasiun Wojo. Revitalisasi ini guna menunjang pengoperasian bandara.

Stasiun kecil ini pun lantas bersolek. Dari pantauan Harian Jogja, sejumlah bangunan tengah dipugar. Fasilitas penunjang kenyamanan untuk para pengguna kereta api yang nantinya berhenti di stasiun tersebut rencananya bakal ditambah. Akses dari stasiun kelas III itu menuju jalan nasional Purworejo-Jogja yang berjarak sekitar 135 meter tak luput dibenahi.

Tim pelaksana proyek renovasi Stasiun Wojo dari PT DH Sejahtera, Jonathan Tri Wibowo, mengatakan timnya ditargetkan untuk dapat menyelesaikan proyek dalam kurun waktu dua bulan.

“Kami ditargetkan untuk merampungkan ini selama dua bulan, berarti antara akhir Maret atau kemungkinan awal April sebelum [NYIA] beroperasi,” kata Jonathan.

Dipilihnya Stasiun Wojo sebagai stasiun transit dari dan ke NYIA bukan tanpa alasan. Berdasarkan citra satelit, jarak dari stasiun itu ke bandara hanya berkisar 3,9 kilometer. Jika menggunakan kendaraan bermotor maka dapat ditempuh perjalan selama 10 menit.

Dibandingkan dengan jarak dengan Stasiun Wates, Kulonprogo yang berjarak sekitar 18 kilometer dengan sehingga membutuhkan waktu tempuh 20 menit.  Tentu Stasiun Wojo lebih dekat. Pun demikaian dengan Stasiun Kutoarjo, Purworejo, yang jaraknya justru lebih jauh, yakni 33 kilometer dengan waktu tempuh 44 menit.