Selain Milik Presiden Prabowo, Ini Daftar Ponsel Diduga Disadap Listyo Sigit Cs
Kasus penyadapan Presiden Prabowo menyeret tiga tersangka. Bareskrim mengungkap modus, penghapusan jejak digital, dan pasal pidananya.
Pakar pendidikan Ki Darmaningtyas.ist
Harianjogja.com, JAKARTA—Ketahanan keluarga dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah anak dan remaja terjerumus dalam intoleransi, radikalisme, maupun perilaku kekerasan. Selain pengawasan orang tua, edukasi publik yang berkelanjutan juga diperlukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh paham ekstrem.
Pakar pendidikan Ki Darmaningtyas menilai persoalan tersebut perlu dilihat dari lingkungan terdekat anak, terutama keluarga. Menurut dia, pola asuh dan keharmonisan rumah tangga turut membentuk karakter serta kemampuan anak dalam mengelola emosi.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga kurang harmonis berisiko kehilangan pegangan emosional. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara mereka menghadapi persoalan dan berinteraksi dengan orang lain.
"Anak-anak yang tumbuh tanpa keharmonisan keluarga cenderung lebih mudah untuk kehilangan arah atau pegangan hidup. Anak yang demikian kemudian mengalami kegelisahan di dalam bersikap dan bertindak, dan itu secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku mereka, di mana ketika mereka mengalami krisis kasih sayang, dia cenderung akan mudah meluapkan emosinya dalam tindakan-tindakan sepihak untuk melakukan kekerasan terhadap sesamanya," jelas Darmaningtyas, Selasa (3/11/2026).
Ia memperkirakan keluarga memiliki kontribusi 50% dalam pembentukan karakter anak, disusul sekolah sebesar 30% dan lingkungan pergaulan 20%. Karena itu, lemahnya pendampingan keluarga dapat membuat anak lebih rentan menghadapi tekanan sosial dan psikologis.
Menurut Darmaningtyas, tantangan tersebut semakin kompleks pada generasi milenial, Gen Z, hingga generasi Alfa. Di tengah banyaknya tantangan yang dihadapi, peletakan dasar karakter dari keluarga justru dinilai semakin minim.
Selain lingkungan keluarga, perkembangan media sosial turut memengaruhi perilaku anak muda. Darmaningtyas menyoroti kecenderungan sebagian orang menjadikan perhatian publik dan popularitas instan sebagai ukuran eksistensi diri.
Aksi kekerasan atau perilaku menyimpang yang viral bahkan berpotensi dianggap sebagai cara untuk memperoleh pengakuan. Situasi ini dapat memperkuat perilaku destruktif apabila pelaku merasa tindakannya justru mendatangkan perhatian.
"Tindakan main hakim atau ekstremisme itu ternyata dianggap bisa mengangkat diri si pelaku agar menjadi viral atau terkenal. Tindakan vigilantisme atau main hakim sendiri menjadi populer di kalangan para pelaku karena mereka merasa belum tentu akan mendapatkan hukuman yang setimpal, bisa jadi dia malah happy karena perbuatan jahatnya itu dicita-citakan sebagai obsesi untuk mendapat perhatian orang banyak," ungkapnya.
Edukasi Radikalisme Perlu Berkelanjutan
Darmaningtyas menegaskan pencegahan radikalisme dan terorisme tidak cukup hanya mengandalkan peran pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat melalui pendidikan publik yang dilakukan secara konsisten.
Ia menilai upaya edukasi, termasuk yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), perlu berlangsung berkesinambungan agar masyarakat memiliki pemahaman dan ketahanan terhadap pandangan ekstrem.
"Kegiatan penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan melalui pendidikan publik, bukan sekadar penyuluhan sekali dua kali, agar masyarakat selalu diingatkan dan memiliki daya tahan terhadap pandangan sempit," ujarnya.
Pendekatan dialogis juga dinilai penting, terutama ketika menghadapi penyebaran paham intoleran yang menggunakan dalih keagamaan. Edukasi perlu membuka ruang diskusi agar anak muda dapat memahami perbedaan dan menguji pandangan secara kritis.
"Kalau sudah menyangkut pandangan yang sempit dalam hal keagamaan, penyuluhan harus dilakukan secara terus-menerus melalui edukasi, dialog, dan adu argumen sampai orang itu punya kesadaran bahwa dirinya keliru, meskipun itu memerlukan waktu, energi, dan biaya yang besar," imbuhnya.
Di lingkungan rumah, orang tua diingatkan agar tidak menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada gawai. Pendampingan langsung dan komunikasi dalam keluarga tetap diperlukan untuk membangun kedekatan emosional sekaligus membantu anak menyaring informasi digital.
Darmaningtyas juga menyoroti perlunya pembatasan penggunaan gawai dan penguatan interaksi keluarga. Menurut dia, keluarga harus menjadi tempat utama anak memperoleh perhatian, pendampingan, dan pengakuan.
"Karakter anak itu lima puluh persen terbangun di lingkungan keluarga, sehingga keluarga harus menjaga keutuhan dan menghindari pola asuh yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada HP, karena hal itu tidak hanya merusak relasi dan saraf anak, melainkan juga melahirkan generasi yang rentan terpapar paham radikal di masa depan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus penyadapan Presiden Prabowo menyeret tiga tersangka. Bareskrim mengungkap modus, penghapusan jejak digital, dan pasal pidananya.
Inter Milan bangkit dengan kemenangan 3-0 atas Feyenoord di Liga Champions. Yann Bisseck, Pio Esposito, dan Piotr Zielinski mencetak gol.
Bayern Muenchen menang 2-0 atas Atletico Madrid di Liga Champions. Lennart Karl dan Konrad Laimer memastikan kemenangan Die Roten.
Barcelona menang 3-0 atas Aston Villa pada matchday keempat Liga Champions 2026/2027. Raphinha mencetak dua gol di Camp Nou.
Manchester United bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mengalahkan AS Roma 3-2. Matheus Cunha mencetak dua gol penentu kemenangan.
Persib Bandung bertandang ke markas Melbourne Victory pada 4 November 2026 pukul 14.45 WIB. Simak jadwal siaran langsung ACL 2 di RCTI.