Daratan Baru Muncul di Laut Tual Bukan Pulau Vulkanik, Ini Penjelasan PVMBG

Newswire
Newswire Selasa, 03 November 2026 19:37 WIB
Daratan Baru Muncul di Laut Tual Bukan Pulau Vulkanik, Ini Penjelasan PVMBG

PVMBG menjelaskan daratan baru di perairan Tual terbentuk dari material mud volcano yang terdorong ke permukaan setelah aktivitas gempa. /Antara.

Harianjogja.com, TUAL—Daratan baru yang muncul di perairan Desa Yamru, Kota Tual, Maluku, bukan merupakan pulau vulkanik yang terbentuk akibat aktivitas gunung api. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan, gundukan tersebut berasal dari material lumpur, gas, dan air yang terdorong ke permukaan akibat aktivitas geologi.

Ketua Tim Geologi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG, Imam Catur Priambodo, mengatakan wilayah perairan setempat memiliki kondisi geologi yang mengandung material lumpur, gas, dan air dalam jumlah banyak.

Fenomena tersebut dikenal sebagai mud volcano. Namun, istilah itu tidak merujuk pada gunung api yang mengeluarkan lava atau material vulkanik.

"Mud volcano bukan berarti gunung api, tapi material mud atau lumpur yang muncul membentuk gundukan," ujar dia saat ditemui di sela sosialisasi penyebarluasan informasi mitigasi bencana geologi di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa.

Muncul Empat Hari Setelah Gempa Laut Banda

Kemunculan daratan baru di perairan Desa Yamru sebelumnya menjadi perhatian setelah sebuah video yang memperlihatkan gundukan material dari dalam laut viral di masyarakat.

Gundukan menyerupai pulau karang itu memiliki panjang sekitar 60 meter dan lebar 30 meter. Daratan tersebut muncul pada Senin (2/11) dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Kemunculannya terjadi empat hari setelah gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo mengguncang Laut Banda pada 29 Oktober 2026. Berdasarkan laporan masyarakat setempat, material yang membentuk daratan baru tersebut terdiri dari batu, lumpur, dan sedimen pasir.

Imam menjelaskan aktivitas gempa dapat mengganggu kondisi hidrostatik di bawah permukaan laut. Gangguan tersebut memungkinkan material lumpur yang mengandung gas dan air terdorong naik hingga membentuk gundukan di permukaan.

Menurut dia, fenomena kemunculan lumpuran vulkanik bukan hal yang asing di wilayah dengan karakteristik geologi seperti perairan Maluku.

PVMBG Ingatkan Daratan Baru Tidak untuk Dihuni

Meski terlihat menyerupai pulau, PVMBG mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan daratan baru tersebut sebagai tempat tinggal maupun lahan baru.

Material yang membentuk gundukan dinilai belum stabil untuk menopang beban berat, termasuk bangunan. Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan kondisi tersebut sebelum memanfaatkannya.

"Kalau didekati mungkin tidak ada masalah, tapi yang harus diperhatikan karena pulau karang itu kondisinya tidak stabil, jadi jangan dijadikan tempat tinggal atau jangan jadi lahan baru," imbau Imam.

Fenomena Serupa Pernah Terjadi di Kepulauan Tanimbar

Imam menyebut fenomena serupa pernah muncul di perairan Desa Teinaman, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Januari 2023. Saat itu, gundukan yang disebut sebagai pulau baru muncul setelah gempa berkekuatan 7 magnitudo mengguncang wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis PVMBG, gundukan di Teinaman bukan pulau yang benar-benar terbentuk dari dasar laut melalui penambahan material baru. Fenomena tersebut merupakan material dasar laut yang terangkat ke permukaan akibat dorongan sesar naik atau thrust fault setelah gempa bumi.

Tim PVMBG mengamati gundukan tersebut berada sekitar 200 meter dari pantai dengan ketinggian sekitar 3 meter.

Hasil pengamatan di lokasi menunjukkan material yang membentuk gundukan berupa lumpur kehitaman, mengandung pecahan kerikil dan kepingan kayu.

PVMBG menjelaskan mud volcano berbeda dengan pulau vulkanik yang terbentuk akibat aktivitas gunung api. Fenomena tersebut juga bukan pulau tektonik permanen yang terbentuk melalui proses geologi jangka panjang dengan pengangkatan batuan dalam skala besar.

Daratan yang muncul merupakan manifestasi sementara dari deformasi sesar naik pada dasar laut dangkal. Pengangkatan dasar laut seperti ini dapat terjadi di wilayah yang memiliki mekanisme gempa sesar naik, terutama ketika pusat gempa relatif dangkal dan berada di bawah perairan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online