BGN Klaim Anggaran MBG Terserap Rp165 Triliun, Serap 1,03 Juta Pekerja

Newswire
Newswire Selasa, 03 November 2026 13:47 WIB
BGN Klaim Anggaran MBG Terserap Rp165 Triliun, Serap 1,03 Juta Pekerja

Ilustrasi, Petugas membawa ompreng MBG sebelum dibagikan kepada siswa di kompleks Madrasah Ibtidayyah Negeri (MIN) 11 Aceh Barat Desa Kuta Padang, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Senin (21/9/2026)./Antara-Syifa Yulinnas

Harianjogja.com, JAKARTA—Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencatat realisasi penyerapan anggaran mencapai Rp165 triliun sepanjang 2026. Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut pelaksanaan program tersebut kini telah menjangkau lebih dari 58 juta penerima manfaat serta melibatkan 1,03 juta tenaga kerja aktif dari masyarakat lokal.

Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, mengatakan peningkatan realisasi anggaran berjalan seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan pemenuhan gizi nasional. Program MBG, menurutnya, menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Makan Bergizi Gratis dimulai pada Januari 2025 dengan 190 dapur yang melayani 570.000 penerima manfaat. Kini, lebih dari 58 juta anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menerima Makan Bergizi Gratis," kata Tysa Novenny dalam keterangan resminya, Selasa (3/11/2026).

Di tengah penyerapan anggaran yang mencapai Rp165 triliun, BGN mengklaim tetap menerapkan efisiensi dan disiplin fiskal. Lembaga tersebut juga menyatakan telah mengembalikan dana sisa sebesar Rp44 triliun ke kas negara.

MBG Miliki 26.723 Dapur Terverifikasi
Perluasan penerima manfaat MBG turut diikuti peningkatan jumlah fasilitas pelayanan pemenuhan gizi di berbagai daerah. Berdasarkan data operasional terkini, sebanyak 26.723 dapur telah terverifikasi dari target keseluruhan 27.485 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan standar mutu pelayanan tetap terjaga dalam pelaksanaan program MBG.

Keberadaan puluhan ribu dapur itu juga diklaim memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja. BGN melaporkan sebanyak 1,03 juta tenaga kerja aktif dari masyarakat lokal telah terserap dalam operasional program tersebut.

Selain membuka kesempatan kerja, program MBG turut melibatkan pelaku usaha di daerah dalam rantai pasok kebutuhan pangan. Tercatat sebanyak 80.315 pemasok lokal berpartisipasi dalam penyediaan bahan kebutuhan program.

Dari jumlah tersebut, sekitar 82,83% merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah. Keterlibatan pemasok lokal ini menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang terbentuk melalui pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

BGN Bidik 10.000 Dapur Terapkan MBG Prasmanan
Selain memperluas jangkauan penerima manfaat dan menjaga mutu layanan, BGN juga menyiapkan langkah untuk menekan risiko gangguan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG.

Salah satu upaya yang dikembangkan adalah penerapan metode penyajian prasmanan. BGN menargetkan sebanyak 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat menerapkan metode tersebut hingga akhir 2026.

Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan skema prasmanan diarahkan untuk mengurangi risiko gangguan keamanan pangan dan mencegah penurunan kualitas makanan. Metode tersebut juga diharapkan memastikan makanan yang dikonsumsi siswa tetap dalam kondisi hangat dan higienis.

“Target saya adalah sampai dengan akhir tahun, untuk mengurangi keracunan, makanan-makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling diminati oleh siswa ini, maka kami berharap sampai dengan akhir tahun, kita bisa mengimplementasikan MBG Prasmanan ini di 5.000 sampai dengan 10.000 dapur yang sudah bisa mengimplementasikan ini,” ujar Sudaryono.

Penerapan metode prasmanan tersebut menjadi salah satu strategi BGN untuk meningkatkan keamanan dan kualitas makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat.


Orang Tua Diminta Segera Laporkan Gejala Gangguan Kesehatan
Di sisi lain, BGN mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap mutu dan keamanan pangan selama program MBG berlangsung. Pihak sekolah maupun orang tua diminta tetap mengedepankan langkah antisipasi apabila ditemukan gangguan kesehatan setelah anak mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Tysa Novenny mengingatkan keluarga agar segera membawa anak ke puskesmas terdekat apabila mengalami gejala medis tertentu setelah mengonsumsi makanan MBG. Kejadian tersebut juga perlu dilaporkan kepada pihak sekolah agar dapat segera ditindaklanjuti.

Imbauan ini menjadi bagian dari perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program yang kini menjangkau lebih dari 58 juta anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Dengan realisasi anggaran Rp165 triliun, puluhan ribu dapur terverifikasi, serta keterlibatan tenaga kerja dan pemasok lokal, BGN menyebut MBG telah membentuk jaringan pelayanan dan rantai pasok berskala nasional. Ke depan, penerapan metode prasmanan ditargetkan semakin luas untuk mendukung kualitas makanan sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan pada penerima manfaat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online