33 Negara Siapkan Pangan Darurat, Stok Beras Indonesia 25 Juta Ton

Newswire
Newswire Minggu, 01 November 2026 14:27 WIB
33 Negara Siapkan Pangan Darurat, Stok Beras Indonesia 25 Juta Ton

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. /[email protected]_sulaiman.

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketahanan pangan Indonesia dinilai relatif aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran krisis pangan global. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton, ketika sedikitnya 33 negara mulai mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan kebutuhan pokok untuk menghadapi situasi darurat.

Amran mengatakan kekuatan tersebut ditopang produksi pangan dalam negeri dan cadangan pemerintah yang memadai. Kondisi ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi kemungkinan gangguan rantai pasok maupun perdagangan internasional.

"Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat," kata Amran dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Menurut dia, kondisi pangan nasional saat ini merupakan hasil kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan strategis untuk memperkuat produksi dan mewujudkan kemandirian pangan.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman," ujar dia.

"Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” kata Amran menambahkan.

33 Negara Siapkan Persediaan Kebutuhan Dasar

Kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan krisis kini menjadi perhatian sejumlah negara. Sedikitnya 33 negara mengeluarkan imbauan agar masyarakat memiliki persediaan kebutuhan dasar di rumah, seperti makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat.

Sejumlah negara bahkan merekomendasikan rumah tangga menyimpan kebutuhan untuk minimal 72 jam. Langkah tersebut ditujukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan dalam kondisi darurat.

Inggris dan Jepang termasuk negara yang memperkuat imbauan tersebut. Pemerintah Inggris mendorong setiap rumah tangga mempunyai persediaan makanan dan air minum untuk kebutuhan minimal tiga hari.

Sementara itu, Jepang mengimbau masyarakat menyimpan kebutuhan pokok setidaknya untuk tiga hari, bahkan hingga satu minggu jika memungkinkan.

Antisipasi tersebut mencakup berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok.

Situasi itu memperlihatkan bahwa ketahanan pangan dan ketersediaan kebutuhan dasar menjadi perhatian serius banyak negara di tengah ketidakpastian global.

Cadangan Beras Bulog Capai 4,5 Juta Ton

Amran menjelaskan Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi berbagai risiko tersebut. Per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton.

Selain cadangan pemerintah, terdapat sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen. Stok sekitar 10 juta ton lainnya berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka).

Dengan demikian, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton. Angka tersebut berada jauh di atas kebutuhan beras nasional yang berkisar 2,5 juta ton per bulan.

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ujar dia.

Ia menegaskan keberhasilan Indonesia mempertahankan swasembada beras tanpa impor menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan nasional.

Pemerintah, lanjut Amran, tidak ingin Indonesia terus bergantung pada pasokan pangan dari negara lain. Terlebih, konflik dan ketegangan antarnegara sewaktu-waktu dapat mengganggu perdagangan internasional.

Swasembada Jadi Perlindungan dari Gejolak Global

Menurut Amran, ketahanan pangan tidak sekadar berkaitan dengan ketersediaan stok, tetapi juga menyangkut kedaulatan bangsa. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya melalui produksi sendiri dinilai memiliki ruang lebih besar untuk melindungi masyarakat dari gejolak harga dan gangguan pasokan global.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi, Kementerian Pertanian terus memperkuat sejumlah program strategis. Upaya tersebut meliputi optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, hingga peningkatan produktivitas pertanian.

Pemerintah juga melakukan langkah antisipasi terhadap ancaman perubahan iklim dan potensi kekeringan agar produksi pangan tetap terjaga.

Amran mengatakan kondisi pangan yang relatif aman saat ini harus disyukuri sekaligus dipertahankan. Pemerintah akan terus memperkuat produksi dalam negeri, memastikan cadangan pangan tersedia, serta melindungi petani sebagai garda terdepan ketahanan pangan nasional.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online