Profil Lula da Silva, dari Buruh hingga Menang Pilpres Brasil

Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi Senin, 26 Oktober 2026 10:57 WIB
Profil Lula da Silva, dari Buruh hingga Menang Pilpres Brasil

Lula da Silva terpilih kembali sebagai Presiden Brasil setelah mengalahkan Flávio Bolsonaro. Simak perjalanan hidup dan karier politiknya. /Bisnis.

Harianjogja.com, JAKARTA—Luiz Inácio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan Flávio Bolsonaro dalam putaran kedua pada Minggu (25/10/2026). Kemenangan tersebut mengantarkan Lula menuju masa jabatan keempat sebagai presiden, setelah sebelumnya memimpin negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin itu pada 2003–2010 dan sejak 2023.

Berdasarkan hasil resmi yang diumumkan Tribunal Superior Eleitoral (TSE), Lula memperoleh 51,79% suara sah atau 64.256.232 suara. Sementara itu, Flávio Bolsonaro meraih 48,21% atau 59.826.041 suara.

Perjalanan politik Lula tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai pekerja industri dan aktivis serikat buruh. Pria kelahiran Garanhuns, Pernambuco, pada 27 Oktober 1945 itu tumbuh dari keluarga sederhana sebelum bermigrasi ke kawasan industri São Paulo pada awal 1950-an.

Mengutip berbagai sumber, Lula pernah menjalani sejumlah pekerjaan sejak usia muda, mulai dari buruh pencelup kain, penyemir sepatu, hingga pekerja pembantu perkantoran. Ketika berusia 14 tahun, ia mulai bekerja di pabrik pembuat sekrup sembari mengikuti pelatihan teknis mesin bubut.

Lula memperoleh keterampilan sebagai operator mesin melalui lembaga pelatihan industri National Service for Industrial Learning (Senai). Ia kemudian dikenal sebagai pemimpin Brasil yang tidak menempuh pendidikan tinggi dan berasal dari kalangan pekerja industri.

Dari Buruh Pabrik Menjadi Pemimpin Serikat

Pengalaman bekerja di sektor industri menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Lula menuju dunia politik. Saat bekerja di perusahaan manufaktur logam Indústrias Villares, ia bergabung dengan organisasi serikat pekerja logam Sindicato dos Metalúrgicos.

Karier organisasinya berkembang hingga ia terpilih menjadi ketua serikat pada 1975. Posisi tersebut memperkuat keterlibatannya dalam memperjuangkan kepentingan pekerja di tengah situasi politik Brasil yang saat itu berada di bawah rezim militer.

Pada 1978–1979, Lula memimpin aksi mogok kerja besar-besaran yang melibatkan sekitar 170.000 pekerja logam di kawasan industri ABC, São Paulo. Gerakan buruh tersebut menjadi bagian penting dari konsolidasi kekuatan pekerja dalam kehidupan politik Brasil.

Perkembangan gerakan itu turut mengantarkan pada pembentukan Partai Pekerja atau Partido dos Trabalhadores (PT), yang resmi berdiri pada 10 Februari 1980. Lula menjadi salah satu tokoh utama partai tersebut.

Pada 1986, ia terpilih sebagai anggota parlemen dengan perolehan suara terbanyak dalam pemilihan Majelis Konstituante. Setelah itu, Lula beberapa kali maju sebagai calon presiden, termasuk dalam pemilihan pada 1989, 1994, dan 1998, sebelum akhirnya memenangkan pemilu pada 2002.

Empat Kali Memimpin Brasil

Lula pertama kali menjabat sebagai Presiden Brasil pada 1 Januari 2003 hingga 31 Desember 2006. Ia kemudian kembali memimpin negara tersebut untuk periode kedua, yakni 1 Januari 2007 sampai 31 Desember 2010.

Setelah meninggalkan jabatan presiden, Lula tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam politik Brasil. Ia kembali terpilih dalam pemilihan presiden 2022 dan menjabat sejak 2023.

Kemenangan atas Flávio Bolsonaro pada pemilihan 2026 memastikan Lula kembali memimpin Brasil untuk masa jabatan berikutnya, yakni 2027–2030. Dengan hasil tersebut, ia akan menjalani masa jabatan keempatnya sebagai presiden.

Menurut laporan Agência Brasil, Lula memperoleh 51,75% suara sah ketika lebih dari 98,2% tempat pemungutan suara telah dihitung. Angka itu kemudian diperbarui dalam hasil resmi TSE menjadi 51,79%.

Hasil pemilihan tersebut juga memperlihatkan perubahan posisi dibandingkan putaran pertama pada awal Oktober. Lula berhasil membalikkan keadaan dan mengungguli Flávio Bolsonaro pada putaran kedua.

Sekutu Lula, Reginaldo Lopes, menilai hasil pemilihan itu mencerminkan penolakan terhadap politik ekstrem kanan di Brasil.

"Saya merasa luar biasa… Ini adalah Brasil yang memberi tahu dunia bahwa ekstrem kanan itu fasis, bahwa ekstrem kanan menentang orang kulit hitam, menentang orang miskin, menentang negara, menentang kaum gay," kata Lopes kepada The Guardian.

Pendidikan dan Kebijakan Sosial

Meski tidak memiliki gelar sarjana, Lula menjadikan pendidikan sebagai salah satu bidang kebijakan selama masa pemerintahannya. Dalam bahan sumber disebutkan bahwa kebijakan anggaran pendidikan tinggi pada masa kepemimpinannya merealisasikan pembentukan 14 universitas negeri baru di berbagai wilayah Brasil.

Latar belakangnya sebagai pekerja juga menjadi bagian penting dari identitas politik Lula. Dalam perjalanan kariernya, ia dikenal memperjuangkan hak-hak buruh, memperluas kebijakan sosial, serta mendorong upaya pengurangan kemiskinan dan kelaparan.

Kemenangan pada pemilihan 2026 menambah babak baru dalam perjalanan politik Lula, yang dimulai dari dunia kerja dan gerakan serikat buruh sebelum mencapai jabatan tertinggi di pemerintahan Brasil.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online