Advertisement

Penipuan Umrah, Mengambil Celah dari Ibadah

Sirojul Khafid
Minggu, 02 April 2023 - 07:57 WIB
Budi Cahyana
Penipuan Umrah, Mengambil Celah dari Ibadah Ilustrasi umrah - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Agama meminta masyarakat untuk berhati-hati saat memilih biro perjalanan umrah. Hal ini terutama untuk menghindari adanya penipuan seperti pengungkapan kasus yang terjadi baru-baru ini.

"Kasus ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat khususnya kaum Muslimin agar berhati-hati dalam memilih dan menentukan travel umrah," kata Kasubdit Pemantauan dan Pengawasan Ibadah Umrah dan Ibadah Haji Khusus Ditjen PHU Kemenag, Mujib Roni dalam keterangannya, belum lama ini.

Advertisement

Sebelumnya, Satgas Anti Mafia Umrah Polda Metro Jaya mengungkap kasus penelantaran, penipuan, dan pengelapan dana jamaah calon umrah yang dilakukan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) PT Naila Syafaah Wisata Mandiri (NSWM).

Direktorat Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya telah menahan tiga tersangka yakni MA, HA, dan HS yang merupakan pemilik dan Direktur PT NSWM. Modus operandi yang dilakukan para tersangka dengan menawarkan berbagai program paket perjalanan umrah pada medio 2022 hingga 2023.

Setelah dana terkumpul, calon jamaah tidak diberangkatkan ke Tanah Suci sehingga terlantar di Jakarta. Adapula yang diberangkatkan, namun tidak dipulangkan hingga terlantar di Jeddah dan Makkah, Arab Saudi. Korban penipuan dan penelantaran jamaah umrah dari PT NSWM ini mencapai ratusan orang.

"Kemenag mengapresiasi upaya yang telah dilakukan jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya dalam pengungkapan kasus PT NSWM ini. Juga akan menjadi efek jera bagi pelaku PPIU dan kami akan terus bersinergi dengan jajaran Polri dalam memberikan pengawasan dan pencegahan," kata Mujib.

Kemenag sudah melakukan pembinaan, edukasi, dan pengawasan terhadap PPIU. Hanya saja euforia jamaah, ditambah lagi kemudahan perizinan berusaha yang semakin longgar, membuat Kemenag keteteran dalam pengawasan.

Di sisi lain, minat masyarakat untuk melaksanakan umrah tinggi saat ini. Pada 2022, jumlah jamaah umrah sudah mencapai satu juta orang. Sementara hingga Maret 2023, tercatat sudah 400 ribu orang. Mujib memprediksi jamaah umrah pada tahun 2023 ini bisa mencapai 2 juta orang.

"Lamanya antrian haji di Indonesia juga menjadi pemicu antusias calon jamaah untuk melakukan ibadah umrah. Banyak masyarakat mendapati promo ibadah umrah dengan biaya murah atau miring. Sekali lagi kami minta masyarakat untuk berhati-hati dan cerdas dalam memilih travel umrah," katanya.

Penipuan atau penelantaran Jemaah umrah tentu bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya ada beberapa kasus penipuan yang korbannya mencapai belasan ribu orang. Modusnya hampir seragam, iming-iming biaya umrah yang murah.

Tahun 2018, polisi menangkap para pentolan Abu Tours. Mereka agen umrah yang tidak memberangkatkan 86.720 kliennya yang sudah membayar. Mereka tersebar di 15 provinsi. Kerugian mencapai Rp1,8 triliun. Dana yang mereka kumpulkan digunakan untuk kepentingan pribadi dan pengembangan bisnis.

Dalam meyakinkan calon jemaah, Abu Tours mengiming-imingi umrah dengan biaya murah. Mereka juga membuka berbagai promo serta kemudahan-kemudahan lain.

Masih di tahun yang sama, ada pula kasus penipuan Jemaah umrah dari First Travel. Modusnya sama, biaya murah dan membentuk agen kemitraan yang tersebar di berbagai daerah. Promosi di dunia maya juga lumayan gencar, dengan menggandeng para artis sebagai contoh klien yang sudah berangkat.

Korban First Travel mencapai 63.000 orang. Adapun total kerugian sebesar Rp905,33 miliar. Uang yang terkumpul digunakan untuk kepentingan pribadi pemilik travel.

Kasus selanjutnya berasal dari Usmaniyah Hannien Tour. Kasus yang juga terungkap pada 2018 ini merugikan masyarakat hingga Rp37,8 miliar. Ada sekitar 1.800 klien yang tertipu. Modusnya menggunakan promo harga umrah yang murah. Salah satu model kejahatannya, uang dari Jemaah baru digunakan untuk biaya Jemaah lama, dan begitu seterusnya.

Di tahun 2018 pula, terungkap penipuan umrah dari Solusi Balad Lumampah. Total korban mencapai 30.409 orang. Sebanyak 12.845 dari total korban gagal berangkat umrah. Kerugian mencapai Rp300 miliar. Uangnya untuk kepentingan pribadi pemilik agen tour. Untuk menggiurkan calon klien, Solusi Balad Lumampah memberikan harga murah dan tidak wajar.

Kasus lain terjadi pada 2021 dengan tersangka utama M. Akbaruddin. Dia menipu 2.705 orang. Berbeda dengan kasus yang lain, modus kali ini berupa permintaan biaya tambahan sebesar Rp5 juta agar bisa berangkat. Padahal hal tersebut tidak ada di perjanjian sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Belum Juga Temukan Partai Pengusung, Sunaryanta: Kalau Tidak Ada, ya Gak Ikut Pilkada

Gunungkidul
| Selasa, 23 Juli 2024, 16:07 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement