Gus Muwafiq Ajak Ulama dan Kiai Gaungkan Moderasi Beragama

Presiden Joko Widodo didampingi Muhtasyar Nahdlatul Ulama (NU) KH Ma'ruf Amin Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berdoa bersama pada Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019). - ANTARA FOTO/Adeng Bustomi\\r\\n
13 Desember 2021 21:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Ulama Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Muwafiq atau akrab disapa Gus Muwafiq mengimbau para kiai dan ulama agar menggaungkan moderasi beragama untuk menciptakan perdamaian dan memperkuat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kiai harus bicara moderasi beragama. Kalau kita tidak damai apalagi sampai terjadi konflik, kehidupan akan berhenti. Pengusaha dan pasar tidak terserap. Makanya, kedamaian itu penting dan moderasi beragama adalah langkah untuk menciptakan perdamaian bersama,” ujar Gus Muwafiq berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (13/12/2021).

Imbauan tersebut dikemukakan Gus Muwafiq dalam acara pembukaan Muktamar Pemikiran dan Halaqah Kiai/Nyai Muda bertema “Menguatkan Moderasi Beragama sebagai Gerakan Civil Society”, di Bogor, Senin.

BACA JUGA: Rokok Makin Mahal, Cukai Tembakau Naik 12 Persen di 2022

Moderasi beragama, kata dia, bernilai penting karena tidak ada hal di dunia ini yang mampu berdiri sendiri. Artinya, kata Gus Muwafiq, moderasi merupakan langkah untuk memahami bahwa ada sesuatu yang saling membutuhkan dan bergantung dalam hal apa pun.

Dia mengambil contoh agama yang membutuhkan moderasi, karena mengantarkan manusia dari dunia menuju akhirat. Gus Muwafiq menilai agama dalam konteks dunia saling membutuhkan dan bergantung dengan banyak hal. Salah satunya adalah haji dalam agama Islam yang berurusan dengan akhirat. Namun, proses haji itu membutuhkan pesawat yang justru dibuat oleh kaum Yahudi.

“Nah, konsep ini harus dipahami. Makanya, dunia ini sebenarnya adalah rangkaian dari sekian banyak perbedaan yang disatukan dalam sebuah penyatuan rangkaian-rangkaian yang kadang kita tidak mengerti bahwa kita harus rukun dan saling memahami,” ujar Gus Muwafiq.
Meskipun demikian, kata dia lagi, moderasi beragama menghadapi permasalahan yang berasal dari internal umat Islam.

Untuk mengatasi persoalan internal tersebut, Gus Muwafiq mengingatkan agar umat Islam di Indonesia memahami konsep ra’iyyah, yaitu kullukum ro'in, wakullukum mas ulun 'aro'iyyatihi. Artinya, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

“Konsep ra’iyyah ini adalah konsep tentang hidup bersama dan saling bertanggung jawab. Kita bukan vox populi vox day (suara rakyat adalah suara Tuhan) dan bukan suara mayoritas. Itu adalah suara Tuhan karena bisa menjadi diktator,” kata Gus Muwafiq.

Dalam kehidupan di Indonesia dengan puluhan agama dan suku, Gus Muwafiq menilai para pendiri bangsa sudah benar menggunakan konsep Islam, yaitu ra’iyyah. Melalui konsep itu, masyarakat Indonesia dapat saling bertanggung jawab.

Gus Muwafiq pun berharap kegiatan seperti muktamar dan perkumpulan para kiai ataupun nyai muda yang mengusung konsep moderasi beragama senantiasa digelorakan dan dikembangkan. Media pun, menurut dia, juga harus mendukung dengan menggaungkan konsep moderasi beragama.

Dengan demikian, moderasi beragama dapat menjadi gerakan sosial di masyarakat, sehingga perdamaian di Indonesia pun dapat terwujud.

“Kalau kita damai, tenteram, kita pasti pasti makmur. Sebaliknya, bila rongrongan itu itu terus terjadi, kehidupan pasti tidak akan berjalan dengan baik,” kata Gus Muwafiq.

Sumber : Antara