Sri Mulyani Cerita Pengalaman Hadapi 3 Krisis, Stafsus Sebut Tak Ada yang Salahkan Masa Lalu

Menteri Keuangan Sri Mulyani melantik sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Keuangan, Senin (5/10/2021) - Biro KLI / Kemenkeu
29 Oktober 2021 13:47 WIB Wibi Pangestu Pratama News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Sri Mulyani Indrawati menceritakan pengalamannya menghadapi tiga krisis selama berkarir sebagai ekonom hingga Menteri Keuangan itu menjadi bendahara negara. Staf khususnya kemudian meluruskan informasi yang menyebutkan adanya kesalahan masa lalu.

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo angkat suara terkait tersiarnya informasi mengenai cerita Sri Mulyani. Informasi itu menyebutkan bahwa Sri Mulyani membahas kesalahan masa lalu sehingga terjadi krisis ekonomi.

Menurut Yustinus, Sri Mulyani justru membahas pengalamannya menghadapi krisis ekonomi 1998 sebagai akademisi, serta 2008–2009 dan pandemi Covid-19 saat ini sebagai menteri keuangan. Kisah Sri Mulyani itu dinilai dapat dijadikan pelajaran.

"Setiap krisis selalu diikuti kebijakan dan langkah extraordinary. Konsekuensinya beban APBN akan meningkat karena pembiayaan atau utang bertambah. Namun, pemerintah juga membuktikan mampu menangani krisis itu dengan baik, pasca 1998, pasca 2008–2009, dan saat ini. Justru [Sri Mulyani] mengapresiasi," tulis Yustinus dalam akun Twitternya pada Kamis (28/10/2021).

Sebelumnya, Sri Mulyani menceritakan bahwa setelah lulus program PhD di Amerika Serikat (AS), dirinya langsung menghadapi krisis ekonomi 1997–1998. Dia bahkam mengaku ilmunya belum cukup untuk menghadapi masalah ekonomi saat itu.

"Habis selesai PhD, diuji ilmu yang dipelajari pasti tidak memadai karena masalah yang dihadapi dalam realita jauh lebih kompleks," ujar Sri Mulyani pada Senin (25/10/2021).

Pada periode tersebut, Sri Mulyani menceritakan bahwa dirinya masih menjadi pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dia juga seringkali mendapatkan undangan untuk membahas sejumlah kebijakan bagi Indonesia dalam menangani krisis yang melanda ekonomi dan keuangan pada rezim orde baru.

Selanjutnya, perempuan yang akrab disapa Ani ini mulai masuk kabinet pemerintahan sebagai Menteri Keuangan RI pada 2005, di masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sri Mulyani menyebut pengalaman tersebut eventful untuk dirinya.

Pada saat menjadi bendara negara periode pertama, Sri Mulyani sudah menghadapi sejumlah krisis dan fenomena yang menantang, seperti peristiwa tsunami Aceh 2004 dan krisis keuangan global pada 2008.

"Kalau kita hidupnya adalah dalam profesi yang punya konsekuensi sangat besar bagi masyarakat, maka kita punya tanggung jawab yang lebih besar. Itu berarti kita harus benar-benar mengasah dan menjaga kepekaan kita di dalam berpikir, bersikap, dan berucap. Karena kita kita tahu ini akan mempengaruhi banyak sekali masyarakat," pungkasnya.

Sumber : bisnis.com