Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 300 Orang, Kasus Terus Melonjak
Wabah Ebola di RD Kongo tewaskan 300 orang, WHO tetapkan darurat global karena risiko penyebaran tinggi.
Hujan abu akibat aktivitas vulkanik Gunung Merapi meliputi daerah Tamansari di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Rabu (27/1/2021)./Antara
Harianjogja.com, MAGELANG - Hujan abu akibat muntahan awan panas guguran Gunung Merapi meliputi sejumlah desa di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Senin (16/8/2021) pagi.
Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edi Wasono, Gunung Merapi pada Senin (16/8/2021) pukul 05.36 WIB selama 165 detik meluncurkan awan panas guguran sejauh dua kilometer ke arah barat daya.
Awan panas guguran Merapi telah menimbulkan hujan abu di kawasan rawan bencana Merapi, termasuk di desa-desa di Kecamatan Dukun, Sawangan, dan Tegalrejo di Kabupaten Magelang.
Di Kecamatan Dukun, hujan abu dengan intensitas sedang sampai tebal terjadi di Desa Krinjing, Paten, Sengi, dan Banyudono.
Hujan abu sedang hingga tebal juga terjadi di Desa Kapuhan, Mangunsari, Soronalan, dan Ketep di Kecamatan Sawangan. Selain itu, hujan abu sedang meliputi Desa Tegalrejo, Kebonagung, dan Ngadirejo di Kecamatan Tegalrejo.
Hujan abu juga dilaporkan terjadi di wilayah Kecamatan Secang di Kabupaten Magelang dan bagian wilayah Kabupaten Temanggung.
Hari Atmoko, seorang warga Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, menuturkan bahwa hujan abu tipis terjadi di wilayahnya sekitar pukul 07.00 WIB namun tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut laporan warga, hujan abu juga turun di Kayogan, Kelurahan Sidorejo, Kabupaten Temanggung.
Gunung Merapi di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur sejauh 3,5 kilometer (km) ke arah barat daya pada Senin (17/8/2021) pagi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida melalui keterangan resminya menyebut awan panas guguran itu terjadi pada pukul 05.53 WIB dengan tinggi kolom 600 meter.
"Awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo 66 mm dan durasi 289 detik," kata dia.
Pada pukul 05.36 WIB, Gunung Merapi juga tercatat mengeluarkan awan panas sejauh 2.000 meter dengan amplitudo 49 mm selama 165 detik.
Pada periode pengamatan Senin (16/8/2021) pukul 00.00 sampai 06.00 WIB, gunung api aktif itu juga terpantau mengeluarkan guguran lava pijar sembilan kali dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter ke arah barat daya.
Selama periode itu, Gunung Merapi mengalami dua kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 49-66 mm, selama 165-289 detik, 48 kali gempa guguran dengan amplitudo 3-24 mm selama 12-156 detik, 11 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 3-28 mm, selama 3-6 detik, 10 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 16-75 mm, selama 5-11 detik.
Sebelumnya, Hanik mengatakan bahwa Gunung Merapi saat ini memasuki fase ekstrusi atau fase keluarnya magma dari permukaan gunung.
Gunung Merapi mengalami kenaikan aktivitas seismik sejak April 2021 namun aktivitas itu kemudian menurun pada 6 Agustus 2021.
Penurunan aktivitas seismik tersebut menandai dimulainya fase ekstrusi magma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Wabah Ebola di RD Kongo tewaskan 300 orang, WHO tetapkan darurat global karena risiko penyebaran tinggi.
Harga Biosolar B50 harus kompetitif agar diminati. Pemerintah targetkan hentikan impor solar mulai Juli 2026.
Prabowo ungkap dugaan demo dibayar. KSP Dudung sebut informasi presiden akurat dan berpotensi ditindak secara hukum.
Isu retaknya hubungan Prabowo dan Jokowi mencuat. Pengamat UNS menilai belum ada konflik terbuka jelang Pemilu 2029.
Prabowo bangga gunakan mobil Maung buatan Indonesia. Meski sempat bocor, jadi simbol kemandirian industri otomotif nasional.
SPMB SMP Gunungkidul 2026 buka jalur domisili 29 Juni. Dinas Pendidikan terapkan aturan cegah kecurangan KK tempel.