Vaksin GX-19N Diklaim Aman untuk Pasien Autoimun

Seorang tenaga kesehatan sedang menyuntik vaksin Covid-19 kepada penerima vaksin. - Yuliana Hema
10 Juli 2021 10:27 WIB Amanda Kusumawardhani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Peneliti Indonesia segera melakukan uji vaksin GX-19N yang diklaim aman untuk pasien autoimun. Uji klinis fase 2b/3 vaksin tersebut akan melibatkan 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas.

Klaim mengenai vaksin GX-19N aman untuk pasien autoimun dipaparkan Ketua Tim Peneliti Prof Iris Rengganis terkait dengan tidak adanya kandungan adjuvant di dalam vaksin GX-19N.

"Vaksin GX-19N ini tidak mengandung adjuvant atau zat tambahan dalam vaksin yang meningkatkan imunogenisitas. Karena keunggulan tersebut, vaksin ini dapat diberikan ke masyarakat yang memiliki gangguan sistem imun," kata Prof Iris, dikutip dari idxchannel, Jumat (9/7/2021)

Zat adjuvant, sambung Prof Iris, biasa ditambahkan ke vaksin dengan harapan antibodi yang dibentuk oleh si vaksin tersebut tercipta dengan baik. Dengan adanya tambahan zat tersebut, maka beberapa pasien autoimun masih belum bisa menerima vaksin Covid-19.

Lantas, kenapa vaksin GX-19N tidak menggunakan adjuvant?

Vaksin GX-19N yang nantinya diproduksi di dalam negeri melalui PT Kalbe Farma ini menggunakan DNA atau vaksin deoxyribonucleic. Ini akan menjadi vaksin Covid-19 pertama di Indonesia yang platformnya adalah DNA.

Dengan vaksin berbasis DNA, penyuntikkan vaksin pun dikerjakan secara khusus. Bukan dengan jarum suntik, melainkan vaksin akan dimasukkan ke dalam tubuh menggunakan teknologi mutakhir yang disebut dengan alat electroporator.

"Jadi, alat ini yang akan memasukkan vaksin ke dalam tubuh dan dari hasil riset sebelumnya, penggunaan teknologi ini memberi manfaat besar pada percepatan dan kualitas antibodi yang dihasilkan dari vaksin itu sendiri," jelasnya.

"Alatnya sudah datang ke Indonesia dan kita tinggal tempatkan di lokasi uji klinis di beberapa rumah sakit di berbagai wilayah," tambahnya.

Uji klinis tahap 2b/3 vaksin GX-19N akan dilakukan di FKIK Ukrida (Jakarta Barat), Klinik Satelit UI Makara (Depok), RSUP Dr. Sardjito (Yogyakarta), RSUD Dr. Moewardi (Solo), RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro (Klaten), Klinik Utama Fakhira Sawah Lunto (Jakarta Selatan), Klinik Utama Fakhira Jatiasih (Bekasi), dan Klinik Utama Fakhira Jagakarsa (Jakarta Selatan).

Selain itu, peneliti menentukan RSUPN Ciptomangunkusumo sebagai rumah sakit rujukan. 

Sumber : Bisnis.com