Harga Pangan Global Melejit Paling Tinggi dalam Satu Dekade

Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
14 Juni 2021 17:37 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Harga pangan global memperpanjang reli ke level tertinggi dalam hampir satu dekade dan meningkatkan kekhawatiran membengkaknya harga barang-barang pada saat ekonomi sedang berjuang untuk mengatasi krisis Covid-19.

Indeks biaya pangan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) naik selama 12 bulan berturut-turut pada Mei, terpanjang dalam satu dekade. Kenaikan tanpa henti berisiko mempercepat inflasi yang lebih luas dan mempersulit upaya bank sentral untuk memberikan lebih banyak stimulus.

Indeks FAO telah mencapai level tertinggi sejak September 2011, naik hampir 5 persen bulan lalu. Kelima komponen indeks naik selama satu bulan, dengan kenaikan dipimpin oleh minyak nabati, biji-bijian dan gula.

Indeks Spot Pertanian Bloomberg, yang mengukur harga dari biji-bijian hingga gula dan kopi, naik 70 persen pada tahun lalu.

Kekeringan di Amerika Selatan telah membuat tanaman layu, mulai dari jagung dan kedelai hingga kopi dan gula. Rekor pembelian oleh China memperburuk krisis pasokan biji-bijian dan meningkatkan biaya bagi produsen ternak global.

Minyak goreng juga melonjak karena permintaan biofuel. Lonjakan biaya makanan telah menghidupkan kembali peristiwa 2008 dan 2011, ketika lonjakan menyebabkan kerusuhan di lebih dari 30 negara.

"Kami memiliki sedikit ruang untuk kejutan produksi. Kami memiliki sedikit ruang untuk lonjakan permintaan yang tidak terduga di negara mana pun. Hal-hal tersebut dapat mendorong harga naik lebih jauh dari sekarang, dan kemudian kita bisa mulai khawatir,” kata Abdolreza Abbassian, ekonom senior FAO, dilansir Bloomberg, Senin (14/6/2021).

Negara-negara seperti Kenya hingga Meksiko melaporkan biaya yang lebih tinggi untuk makanan. Tekanannya bisa sangat terasa di beberapa negara termiskin yang bergantung pada impor dan memiliki daya beli serta jaring pengaman sosial terbatas pada saat mereka bergulat dengan pandemi yang sedang berlangsung.

Sementara itu, masalah kelaparan dunia telah mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun karena pandemi memperburuk ketidaksetaraan pangan, memperparah cuaca ekstrem dan konflik politik.

Ada elemen lain yang memperburuk melonjaknya harga pangan satu dekade lalu. Misalnya, harga minyak mendekati US$150 per barel dan ada gelombang pembatasan perdagangan oleh eksportir biji-bijian utama.

Sementara itu, harga beras, salah satu bahan makanan pokok dunia, kali ini relatif stabil di tengah lonjakan harga pertanian lainnya.

Keuntungan pada tahun lalu telah didorong oleh pembelian biji-bijian asing yang tidak terduga oleh China, dan cadangan dunia mungkin relatif datar di musim mendatang. Cuaca musim panas di belahan bumi utara akan sangat penting dalam menentukan apakah panen AS dan Eropa dapat menutupi kekurangan panen di tempat lain.

"Kami tidak berada dalam situasi seperti pada 2008-2010 ketika persediaan sangat rendah dan banyak hal yang terjadi. Namun, kami berada di semacam perbatasan. Ini adalah batas yang perlu dipantau dengan sangat ketat selama beberapa minggu ke depan, karena cuaca akan benar-benar membuatnya atau menciptakan masalah yang sangat besar," jelas Abbassian.

Sumber : JIBI/Bisnis.com