Militer Myanmar Tembak Mati Bocah Tujuh Tahun di Pangkuan Sang Ayah

Seorang biksu Buddha memegang tanda berdiri di samping kendaraan lapis baja saat protes terhadap kudeta militer, di Yangon, Myanmar, Minggu (14/2/2021)./Antara - Reuters/Stringer
24 Maret 2021 09:47 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Seorang bocah berusia tujuh tahun ditembak mati oleh pasukan keamanan Myanmar sebagai korban termuda yang diketahui menyusul kudeta militer bulan lalu, kata penduduk setempat.

Anggota keluarga mengatakan bocah perempuan itu dibunuh di rumahnya di kota Mandalay seperti dikutip BBC.com, Rabu (23/3/2021).

Myanmar telah dicengkeram oleh aksi protes sejak militer merebut kendali kekuasaan dari pemerintah sipil pada 1 Februari.

Kelompok hak asasi Save the Children mengatakan lebih dari 20 anak termasuk di antara puluhan orang yang telah terbunuh.

BACA JUGA : Dituding Pasok Beras untuk Militer Myanmar, Ini Respons Thailand

Secara total, militer mengatakan 164 orang telah tewas dalam protes, sementara kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP) menyebutkan korban tewas sedikitnya 261 orang.

Pihak militer sebelumnya menyatakan kesedihan atas kematian para pengunjuk rasa, tetapi menyalahkan mereka karena membawa anarki ke negara itu.

Seorang juru bicara militer mengatakan demonstran anti kudeta bertanggung jawab atas tindakan kekerasan dan pembakaran.

Staf di layanan pemakaman Mandalay mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa anak berusia tujuh tahun itu meninggal karena luka tembak di kotapraja Chan Mya Thazi.

Outlet media lokal Myanmar Now melaporkan bahwa tentara menembak ayahnya dan kemudian membunuh bocah itu saat dia duduk di pangkuannya di dalam rumah mereka.

BACA JUGA : TikTok Hapus Video Bermuatan Propaganda Militer Myanmar

Anak itu diidentifikasi sebagai Khin Myo Chit. Pekerja bantuan mengatakan tim penyelamat bergegas untuk mendapatkan perawatan medisnya, tetapi tidak dapat menyelamatkan nyawanya.

Anggota keluarga korban mengatakan, bahwa saudara laki-lakinya yang berusia 19 tahun juga ditangkap. Akan tetapi pihak, militer belum mengomentari laporan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Save the Children mengatakan pihaknya "ngeri" dengan kematian bocah itu, yang terjadi sehari setelah seorang bocah lelaki berusia 14 tahun dilaporkan ditembak mati di Mandalay.

"Kematian anak-anak ini sangat memprihatinkan mengingat mereka dilaporkan dibunuh saat berada di rumah, di mana mereka seharusnya aman dari bahaya.

Fakta bahwa begitu banyak anak dibunuh hampir setiap hari sekarang menunjukkan pengabaian total terhadap kehidupan manusia oleh pasukan keamanan," kata kelompok itu.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia