Advertisement
Dewan HAM PBB Sebut Myanmar Sedang Dikendalikan Rezim Pembunuh
Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP - Getty Images/Sai Aung Main
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Anggota Tim ahli hak asasi manusia PBB Thomas Andrews mengatakan militer Myanmar telah melakukan "kejahatan terhadap kemanusiaan" karena sedikitnya 70 orang dilaporkan "dibunuh" sejak kudeta 1 Februari.
Andrews mengatakan kepada Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Jenewa bahwa Myanmar saat ini sedang "dikendalikan oleh rezim pembunuh dan ilegal".
Advertisement
"Ada bukti yang berkembang bahwa militer Myanmar, yang dipimpin oleh pemimpin senior, diduga terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk tindakan pembunuhan, penghilangan paksa, penganiayaan, dan penyiksaan," katanya sebagaimana dikutip ChannelNewsAsia.com, Jumat (12/3/2021).
Dia menekankan bahwa pelanggaran semacam itu hanya dapat ditentukan di pengadilan, namun ada bukti jelas bahwa kejahatan pemerintah militer "meluas", "sistematis" dan bagian dari "serangan terkoordinasi".
Dia mengatakan hal itu dilakukan dengan "sepengetahuan pemimpin senior", termasuk pemimpin militer Min Aung Hlaing.
Baca juga: Sudah 10 Tahun, Rencana Perluasan Pelabuhan Gunungkidul Masih jadi Wacana
Andrews mempresentasikan laporan terbarunya tentang situasi tersebut kepada Dewan dan mengatakan menyesalkan bahwa sejak laporan itu diterbitkan minggu lalu, jumlah orang yang terbunuh dan ditahan oleh militer telah membengkak secara signifikan.
Tekanan diplomatik telah meningkat sejak para jenderal merebut kekuasaan yang memicu aksi protes di seluruh negeri dan dihadapi dengan tindakan keras aparat militer.
Militer beralasan pengambilalihan pemerintah karena ada ketidakberesan dalam pemilihan umum November tahun lalu yang dimenangkan partai pemimpin sipil yang sekarang terguling, Aung San Suu Kyi.
Baca juga: Penembakan Laskar FPI Libatkan 3 Anggota Polda Metro Jaya, Ini Respons IPW
Chan Aye, sekretaris tetap kementerian luar negeri Myanmar, mengatakan kepada Dewan Hak Asasi PBB melalui pesan video kemarin bahwa pihak berwenang "telah menahan diri sepenuhnya untuk menangani protes kekerasan."
Akan tetapi, menurut Andrews, pasukan keamanan Myanmar telah membunuh sedikitnya 70 orang sejak 1 Februari dan kebanyakan dari mereka berusia di bawah 25 tahun.
Kemarin saja sebanyak sembilan orang tewas tertembak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : ChannelNewsAsia.com, Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat di Jateng hingga Akhir Januari 2026
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
Advertisement
DPRD DIY Dorong Perluasan Beasiswa Danais ke Banyak Kampus
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Insentif CBU Berakhir, Pasar Mobil Listrik Berisiko Melambat
- Pos Bantuan Hukum Resmi Hadir di Seluruh Kalurahan DIY
- Basarnas Evakuasi Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 di Jurang Maros
- Macan Tutul Masih Ada di Gunungkidul, Begini Penjelasan BKSDA
- Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Rawit Merah Rp48.600 per Kg
- Produksi Ikan Budidaya Bantul Lampaui Target, Tembus 13.825 Ton
- Perda Kebencanaan Masuk Agenda 13 Propemperda Sleman 2026
Advertisement
Advertisement



