Kondisi Myanmar Memburuk, Demo Anti-Kudeta Kembali Memakan Korban, 9 Orang Tewas

Pengunjuk rasa saat melakukan aksinya di Yangon, Myanmar, 10 Februari 2021./Bloomberg/AFP - Getty Images/Sai Aung Main
03 Maret 2021 20:07 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebanyak sembilan orang tewas setelah pasukan keamanan menembaki demonstran pro demokrasi Myanmar pada Rabu (3/3/2021).

Dilansir dari South China Morning Post, kerusuhan di Myanmar kembali memakan korban. Seorang remaja laki-laki meninggal di Myingyan dan lima orang (empat laki-laki dan satu wanita) terbunuh, seperti dilaporkan Ko Thit Sar, editor Monywa Gazette.

Seorang saksi dan media setempat melaporkan dua korban tewas lainnya berada di Mandalay dan seorang lagi di Yangon.

Polisi menembaki gas air mata dan alat pemadam api ke arah pengunjuk rasa di daerah San Chaung, salah satu titik kerusuhan terparah di Yangon.

Minggu lalu menjadi hari paling berdarah sejak kudeta militer pada 1 Februari, seiring dengan tewasnya 18 orang pada hari itu seperti yang dilaporkan perwakilan PBB.

“Negara ini seperti [protes] Lapangan Tiananmen di sebagian besar kota besar,” kata Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo di akun Twitter mengacu penindasan aksi protes yang dipimpin mahasiswa di Beijing pada 1989.

Sementara itu, Channel News Asia melaporkan kerusuhan demonstrasi kudeta militer di Myanmar tidak mereda setelah Presiden Myanmar yang digulingkan Win Myint dihadapkan dengan dua dakwaan baru.

BACA JUGA: Kawasan Tugu Jogja Diguyur Hujan Es Sebesar Kelereng

Pengacara Win Myint, Khin Maung Zaw pada hari Rabu mengatakan Presiden yang digulingkan menghadapi dua dakwaan baru, termasuk atas pelanggaran konstitusi dan terancam tiga tahun penjara.

Win Myint ditangkap pada 1 Februari bersama dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi hanya beberapa jam sebelum militer merebut kekuasaan dalam kudeta. Pengacara Khin Maung Zaw mengatakan tanggal persidangan Win Myint masih belum diketahui.

Sumber : Bisnis.com