Studi: Pandemi Covid-19 Tingkatkan Penggunaan Dompet Digital

Wanita memegang smartphone dengan aplikasi dompet digital. - Antara
02 Maret 2021 22:47 WIB Fatkhul Maskur News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Studi riset digital dari Neurosensum mengungkapkan pengguna dompet digital atau e-wallet melonjak dalam setahun terakhir selama pandemi Covid-19 seiring dengan meningkatnya kecenderungan belanja daring (online) di e-commerce.

Managing Director Neurosensum Indonesia Mahesh Agarwal mengatakan pandemi Covid-19 merupakan faktor yang memicu peningkatan penggunaan dompet digital dikaitkan dengan belanja daring di e-commerce.

"Hal menarik yang kami temukan adalah sekitar 44 persen pengguna baru mulai menggunakan e-wallet pada 2020 yang mana setelah pandemi Covid-19 merebak," ujarnya seperti dikutip Antara, Selasa (2/2/2021).

Hal ini karena publik lebih cenderung melakukan belanja online di e-commerce saat ini dan kecenderungan untuk mengandalkan e-wallet semakin menguat.

Menurutnya, setiap tahun ada e-wallet baru yang diluncurkan sehingga membuat pasar dompet digital sangat kompetitif di Indonesia.

Dalam kurun waktu sebelum pandemi, penggunaan dompet digital selama 3-5 tahun hanya berkisar 10 persen, kemudian dalam kurun waktu 1-3 tahun terakhir pengguna dompet digital hanya mencapai 45 persen.

Namun pada 2020, hanya kurang dari setahun, terjadi lonjakan drastis dalam persentase pengguna e-wallet yakni sekitar 44 persen.

"Ini merupakan trend yang sangat menarik, dan kemungkinan pertumbuhan pengguna e-wallet di Indonesia akan semakin meningkat ke depannya," kata Mahesh.

Research Manager Neurosensum Indonesia Tika Widyaningtyas mengatakan bahwa sejak e-wallet masuk ke Indonesia, mungkin adopsinya tidak secepat akhir-akhir ini.

Namun, setelah pandemi Covid-19 melanda yang mana hampir separuh masyarakat menggunakan e-wallet. Mereka adalah pengguna baru atau new adopter dalam satu tahun terakhir.

"Hal menarik lainnya adalah ternyata ketika belanja daring, lebih banyak orang yang menggunakan e-wallet bahkan jika dibandingkan dengan rekening bank," ujar Tika.

Menurut hasil studi dari Neurosensum, e-wallet menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan ketika masyarakat Indonesia melakukan belanja daring yakni sekitar 88 persen akhir-akhir ini.

Sedangkan metode pembayaran transfer bank atau bank account tercatat sekitar 72 persen, kemudian metode pembayaran cash on delivery 47 persen dan diikuti pembayaran lewat supermarket/minimarket sekitar 32 persen.

Sementara itu metode pembayaran kartu debit tercatat sekitar 23 persen dan kartu kredit sekitar 11 persen ketika masyarakat melakukan belanja online.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia