Advertisement
Studi: Pandemi Covid-19 Tingkatkan Penggunaan Dompet Digital
Wanita memegang smartphone dengan aplikasi dompet digital. - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Studi riset digital dari Neurosensum mengungkapkan pengguna dompet digital atau e-wallet melonjak dalam setahun terakhir selama pandemi Covid-19 seiring dengan meningkatnya kecenderungan belanja daring (online) di e-commerce.
Managing Director Neurosensum Indonesia Mahesh Agarwal mengatakan pandemi Covid-19 merupakan faktor yang memicu peningkatan penggunaan dompet digital dikaitkan dengan belanja daring di e-commerce.
Advertisement
"Hal menarik yang kami temukan adalah sekitar 44 persen pengguna baru mulai menggunakan e-wallet pada 2020 yang mana setelah pandemi Covid-19 merebak," ujarnya seperti dikutip Antara, Selasa (2/2/2021).
Hal ini karena publik lebih cenderung melakukan belanja online di e-commerce saat ini dan kecenderungan untuk mengandalkan e-wallet semakin menguat.
Menurutnya, setiap tahun ada e-wallet baru yang diluncurkan sehingga membuat pasar dompet digital sangat kompetitif di Indonesia.
Dalam kurun waktu sebelum pandemi, penggunaan dompet digital selama 3-5 tahun hanya berkisar 10 persen, kemudian dalam kurun waktu 1-3 tahun terakhir pengguna dompet digital hanya mencapai 45 persen.
Namun pada 2020, hanya kurang dari setahun, terjadi lonjakan drastis dalam persentase pengguna e-wallet yakni sekitar 44 persen.
"Ini merupakan trend yang sangat menarik, dan kemungkinan pertumbuhan pengguna e-wallet di Indonesia akan semakin meningkat ke depannya," kata Mahesh.
Research Manager Neurosensum Indonesia Tika Widyaningtyas mengatakan bahwa sejak e-wallet masuk ke Indonesia, mungkin adopsinya tidak secepat akhir-akhir ini.
Namun, setelah pandemi Covid-19 melanda yang mana hampir separuh masyarakat menggunakan e-wallet. Mereka adalah pengguna baru atau new adopter dalam satu tahun terakhir.
"Hal menarik lainnya adalah ternyata ketika belanja daring, lebih banyak orang yang menggunakan e-wallet bahkan jika dibandingkan dengan rekening bank," ujar Tika.
Menurut hasil studi dari Neurosensum, e-wallet menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan ketika masyarakat Indonesia melakukan belanja daring yakni sekitar 88 persen akhir-akhir ini.
Sedangkan metode pembayaran transfer bank atau bank account tercatat sekitar 72 persen, kemudian metode pembayaran cash on delivery 47 persen dan diikuti pembayaran lewat supermarket/minimarket sekitar 32 persen.
Sementara itu metode pembayaran kartu debit tercatat sekitar 23 persen dan kartu kredit sekitar 11 persen ketika masyarakat melakukan belanja online.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pemkot Siapkan Skema Jam Kerja ASN Jumat Pelayanan Tetap Jalan
Advertisement
Masuk Jepang Wajib JESTA 2026, Ini Biaya dan Cara Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Daftar Film Terlaris Maret 2026, Danur dan Suzzanna Unggul
- Diduga Lalai Saat Memasak, Rumah di Argorejo Ludes Terbakar
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 31 Maret 2026
- Ujian TKA Dimulai April, Sekolah dan Orang Tua Diklaim Makin Siap
- Per 1 April 2026 Isi BBM Bersubsidi Dibatasi dan Wajib Catat Nopol
- Jadwal SIM Keliling Kulonprogo Selasa 31 Maret 2026
- Dari Kelompok Tani, Sekar Arum Ubah Sampah Jadi Prestasi di Jogja
Advertisement
Advertisement







