WHO Beri Izin Darurat untuk Vaksin Covid-19 AstraZeneca

WHO menginisiasi program vaksin global, COVAX untuk didistribusikan secara setara ke negara-negara, termasuk negara berkembang dan miskin. - Antara\\r\\n\\r\\n
16 Februari 2021 14:17 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan izin penggunaan darurat bagi vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca Plc untuk mempercepat program vaksin di negara berkembang. Vaksin yang divalidasi oleh WHO adalah dua versi vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh SK Bioscience Co.(Korea Selatan) dan Serum Institute of India.

Izin ini dibutuhkan untuk memastikan keamanan dan efikasi vaksin lewat jalur COVAX yang diberikan gratis kepada negara partisipan yang mungkin tidak memiliki fasilitas untuk melakukan pengujian secara mandiri.

BACA JUGA : Sultan Berharap Tak Ada Warga Jogja yang Menolak Vaksin

“Negara-negara yang tidak memiliki akses vaksin pada akhirnya akan dapat mulai vaksinasi pekerja kesehatan dan populasi mereka yang berisiko,” kata Dr Mariângela Simão, Asisten-Direktur Jenderal WHO, seperti dikutip dari laman resminya, Selasa (16/2/2021).

Kelompok Penasihat Strategis WHO tentang Imunisasi mengeluarkan izin, sehingga vaksin dapat diberikan kepada orang dewasa di atas 18 tahun. Namun, terdapat perbedaan ketentuan usia di sejumlah negara Uni Eropa, terutama larangan penyuntikan kepada kelompok manula lantaran tidak mencukupinya data terkait dengan efikasi.

“Negara-negara tetap antusias untuk menerima produk AstraZeneca, sementara pada saat yang sama mereka juga mengajukan pertanyaan yang sangat relevan tentang apa yang ditunjukkan dan tidak ditunjukkan oleh bukti,” kata Kate O'Brien yang mengepalai divisi vaksinasi WHO, seperti dikutip dari Bloomberg.

BACA JUGA : Mantap! Lebih dari Separuh Nakes Terdaftar di Jogja Sudah

“Ada alasan yang masuk akal mengapa kami pikir mereka akan tetap beraktivitas saat menghadapi penyakit parah,” lanjutnya.

Sejumlah negara berkembang tengah menunggu vaksin pertama mereka, di saat negara kaya telah memberikan suntikan ke jutaan warganya. Sementara itu, kekhawatiran muncul seiring dengan mutasi virus yang menyebar di berbagai belahan dunia dapat memengaruhi efikasi vaksin.

Salah satunya adalah varian Afrika Selatan, varian pertama yang ditemukan sejak tahun lalu. Temuan tersebut berdampak pada penghentian vaksin AstraZeneca setelah uji klinis memperlihatkan khasiat yang terbatas pada infeksi ringan dengan strain tersebut.

Vaksin produksi AstraZeneca - University of Oxford ini telah mendapat persetujuan oleh Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara lainnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia