Kubah Lava Gunung Merapi Menyusut, Potensi Awan Panas Menurun

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
29 Januari 2021 20:07 WIB Lugas Subarkah News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Aktivitas guguran Gunung Merapi dalam sepekan terakhir tercatat intensif. Aktivitas paling tinggi terjadi pada Rabu (27/1/2021) lalu, sebanyak 52 kali awan panas dan empat kali guguran.

Besarnya intensitas guguran ini menyusutkan kubah lava yang telah terbentuk pada awal Januari lalu atau yang disebut kubah lava 2021.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menjelaskan kubah lava pada 25 Januari tercatat memiliki volume 158.000 meter kubik. Saat ini, kubah lava telah menyusut menjadi 62.000 meter kubik.

“Penurunan kubah lava karena sebagian sudah terlontaar saat terjadi awan panas. Untuk ke depan dengan mengecilnya volume berarti potensi bahaya apakah berkurang? Secara umum iya, tapi kalau ada suplai dari dalam, yang tidak kita tahu. Tapi potensi itu jadi lebih kecil sehingga terjadinya awan panas bisa menurun,” katanya, Jumat (29/1/2021).

BACA JUGA: Update Covid-19 di DIY: Dalam 24 Jam Bertambah 414 Kasus

Adapun pertumbuhan kubah lava rata-rata per hari pada 23 Januari tercatat sebesar 22.000 meter kubik per hari dengan rata-rata sebesar 8.000 meter kubik per hari. Laju ekstrusi magma diperkirakan 24.000 meter kubik per hari. Laju ekstrusi ini lah yang mempengaruhi tingkat aktivitas guguran.

Jika dilihat dari volume dan pertumbuhan kubah lava, intensitas erupsi kali ini masih terhitung kecil. Sebagai contoh pada erupsi 2010, volume kubah lava mencapai 5 juta meter kubik dengan pertumbuhan 2,1 juta meter kubik per hari. Pada erupsi 2006 kubah lava terbesar mencapai 4,3 juta meter kubik dengan pertumbuhan hingga 170 meter kubik.

Dalam sepekan terakhir, BPPTKG mencatat terjadi setidaknya 230 kali lava pijar dengan jarak luncur maksimal 1,5 km arah barat daya ke hulu Kali Krasak dan Kali Boyong. Sedangkan awan panas guguran terjadi sebanyak 71 kali dengan jarak luncur maksimal 3,5 km ke arah Kali Boyong dan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimal 70 mm dan durasi 240 detik.

Pada aktivitas kegempaan, tercatat 71 kali gempa awan panas guguran (AP), enam kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 105 kali gempa Fase Banyak (MP), 1.148 kali gempa Guguran (RF), 122 kali gempa Hembusan (DG) dan satu kali gempa Tektonik (TT).