Dokter Reisa: Vaksi Covid-19 Aman, Ulama Menganjurkan

Juru Bicara Pemerintah Dokter Reisa Broto Asmoro di Kantor Presiden, Senin (21/9 - 2020) / Youtube Setpres
05 Januari 2021 17:27 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 meyakinkan bahwa kandungan vaksin Covid-19 tak berbahaya, bahkan vaksinasi dianjurkan oleh ulama.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Reisa Brotoasmoro mengatakan bahwa memang sampai saat ini keamanan, efektivitas, dan kehalalan vaksin masih menjadi pertanyaan banyak orang, termasuk pada tenaga kesehatan yang akan menjadi penerima vaksin tahap pertama.

Untuk kaitannya vaksinasi dengan kepatuhan pada ajaran agama, Reisa mengatakan bahwa program imunisasi atau vaksinasi yang rutin, berkala dan bertahap telah menyelamatkan miliaran nyawa anak-anak sedunia, ditambah vaksinasi untuk dewasa sudah membantu orang tua untuk membangun kekebalan tubuh spesifik atau khusus terhadap penyakit tertentu.

Baca juga: Bupati Badingah Tak Masuk Kriteria Penerima Vaksin di Tahap Awal

“Maka ulama sejak lama sudah menyatakan imunisasi atau vaksinasi adalah boleh, bahkan sangat dianjurkan, seperti yang tertuang dalam fatwa ulama 2016, yang menyatakan imunisasi adalah sebuah ikhtiar, upaya mewujudkan imunitas dan mencegah penyakit tertentu,” jelasnya pada konferensi pers Senin (4/1/2021).

Reisa menambahkan, kumpulan ulama dunia pun berpendapat sama dengan MUI yang menyatakan bahwa semua imunisasi rutin dan vaksinasi sesuai dengan ajaran agama.

Dalam konteks vaksinasi Covid-19, Ulama Mesir dan Uni Emirat Arab pun sudah memperbolehkan vaksinasi, bahkan putra mahkota Arab Saudi dan juga Gubernur Mekah sudah menerima vaksin Covid-19.

Baca juga: Ketua DPRD DIY Yakinkan Publik Terkait Keamanan Vaksin Covid-19

Selain itu, terkait dengan keamanan vaksin Covid-19, Reisa juga menegaskan bahwa vaksin sudah aman untuk dipakai manusia jika sudah masuk uji klinis tahap 3.

“Para guru besar, para ahli yang sudah punya pengalaman puluhan tahun, telah mendampingi proses pengkajian vaksin ini. Tentunya apabila sudah berada di uji klinik tahap 3, vaksin sudah dinyatakan aman, karena sudah melalui uji klinis fase 1 dan 2, dan yang saat ini sedang kita tunggu adalah efikasi," jelasnya.

Efikasi adalah persentase penurunan kejadian penyakit pada kelompok orang yang divaksinasi. Harapannya, tak lama lagi para ahli akan menyampaikan hasil uji klinis fase 3.

Reisa juga menjelaskan bahwa vaksin yang telah disiapkan adalah vaksin yang dibuat berbasiskan inactivated virus atau virus yang tidak aktif. Metode ini sudah dikenal sejak ratusan tahun, bahkan sejak zaman rabies.

Vaksin dengan metode tersebut terbukti manjur melindungi, bahkan mengeradikasi penyakit menular.

“Kita tahu bukti lainnya di mana vaksin polio itu juga terbuat dengan metode ini dan telah terbukti menyelamatkan jutaan anak dari resiko lumpuh di masa depan. Bahkan Agustus tahun lalu kita baru saja merayakan bebas polio dari Afrika, hebatnya Indonesia berjasa besar dalam hal ini, karena vaksin dengan inactivated virus yang digunakan adalah buatan Bio Farma, Indonesia,” paparnya.

Melihat dari sejarah bahwa Indonesia sendiri sudah lama berpengalaman mengembangan vaksin inactivated virus itu, Reisa mengimbau masyarakat agar tidak perlu ragu mengenai efektivitas vaksin Covid-19.

Sumber : Bisnis.com