AS Pelajari Reaksi Alergi dari Vaksin Pfizer-BioNTech

Vaksin buatan Pfizer yang disetujui Inggris - Reuters
24 Desember 2020 05:47 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Amerika Serikat sedang mencari tahu mengapa beberapa orang yang menerima vaksin Covid-19 dari pengembang Pfizer-BioNTech mengalami reaksi alergi.

Alkis Togias, seorang pejabat di National Institute of Allergy and Infectious Diseases mengatakan bahwa beberapa ratus orang yang memiliki riwayat reaksi alergi parah akan dilibatkan dalam sebuah penelitian uji vaksin.

“Kami sedikit prihatin kalau orang-orang yang punya banyak alergi memiliki reaksi seperti ini terhadap segala macam hal, termasuk vaksin. Hal ini akan membuat orang takut divaksinasi sekarang,” katanya seperti dikutip Fox News, Rabu (23/12).

Dia melanjutkan bahwa pihaknya tidak ingin hal tersebut terjadi, oleh sebab itu mereka mencari cara agar banyak orang bisa mendapatkan vaksinasi. Departemen yang dipimpin oleh Togias akan memimpin studi tersebut yang rencananya dimulai dalam beberapa minggu.

Laporan juga menyebutkan kendati reaksi alergi disebutkan terjadi pada pasien yang menerima suntikan vaksin dari Pfizer-BioNTech, penelitian juga akan melibatkan suntikan vaksin yang dikembangkan oleh Moderna.

Para peneliti National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) tertarik pada fenomena langka tersebut setelah adanya laporan bahwa beberapa orang mengembangkan anafilaksis, reaksi alergi yang berpotensi mengancam nyawa terhadap vaksin Pfizer.

Minggu lalu, seorang dokter di Alaska menderita gejala anafilaksis setelah menerima inokulasi Pfizer. Masih belum jelas mengapa beberapa orang mengalami reaksi terhadap alergi dua suntikan, yang menggunakan pendekatan vaksin baru mRNA tersebut.

Pejabat kesehatan Amerika Serikat mengatakan bahwa suntikan vaksin yang dikembangkan Pfizer-BioNTech itu aman, dengan hanya 10 hingga 15 persen sukarelawan dalam uji klinis yang melaporkan efek samping signifikan.

Adapun, Togias mengatakan studi yang dilakukan mungkin melibatkan orang yang tidak menderita reaksi alergi sehingga dapat membuat perbandingan. Tetapi, sebelum peneliti dapat meluncurkan studi tersebut, harus ada protokol terperinci yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).

“Tentu saja, ketika orang mendengar studi yang berhubungan dengan vaksin, kami mencoba untuk peka tapi tetap bergerak dengan cepat. Akan tetapi, ini bukan sesuatu yang bisa kita rancang hari ini dan dimulai besok,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia