Ini Bedanya Vaksin Sinovac dengan Vaksin Merah Putih

Petugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). - Antara
05 November 2020 08:07 WIB Dewi Andriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pemerintah menempuh dua jalur dalam proses pengadaan vaksin Covid-19. 

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menjelaskan, jalur pertama, jalur kerjasama dengan pihak luar negeri. Dalam kerjasama ini memang sempat muncul beberapa nama atau kandidat vaksin tetapi yang saat ini sudah memasuki uji klinis tahap ketiga adalah Sinovac yang berasal dari China.

Jalur kedua yakni vaksin Merah Putih sebagai vaksin yang dibuat dan dikembangkan oleh sejumlah institusi penelitian dan perguruan tinggi dalam negeri.

Menurutnya, pengembangan Vaksin Merah Putih harus dilakukan agar Indonesia tidak terlalu bergantung dengan vaksin dari luar negeri. Apalagi kebutuhan akan vaksin ini terbilang cukup besar yakni minimal 2/3 dari penduduk Indonesia harus divaksinasi agar terjadi kekebalan massal.

“Artinya akan ada 180 juta penduduk yang harus divaksin. Maka kita juga harus memiliki kemandirian vaksinasi melalui penyediaan Vaksin Merah Putih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujarnya dalam acara Susi Cek Ombak di Metro TV, Rabu (11/4/2020).

Vaksin Merah Putih sendiri dikembangkan dengan menggunakan platform seperti protein rekombinan, DNa, dan RNA. Sementara itu, Sinovac menggunakan platform inactivated virus atau virus yang dimatikan dalam pengembangan vaksinnya.

Selain itu, Vaksin Merah Putih dikembangkan menggunakan isolat virus yang bertransmisi di Indonesia, berbeda dengan Sinovac yang menggunakan isolate virus dari Negara asalnya, China.

“Inactivated virus dari Sinovac memang bisa lebih cepat tapi tingkat keamanan saat melakukan penelitian lebih berisiko karena virus sungguhan yang digunakan. Kalau protein rekombinan waktunya lebih panjang tapi relatif lebih aman karena yang diambil protein yang ada fungsi memasukan virus ke tubuh,” terangnya.

Bambang menargetkan jika semua proses uji klinis dan registrasi berjalan lancar, maka Vaksin Merah Putih sudah tersedia pada triwulan ketiga atau triwulan keempat 2021 sehingga proses vaksinasi bisa mulai dilakukan.

“Semua vaksin harus melalui uji klinis dan itu tahap yang paling kritikal karena memang fokus kita pada safety. Bicara soal vaksin, yang penting adalah masalah keamanan jangan sampai menimbulkan efek kepada manusia. Uji klinis selesai dan izin sudah keluar maka baru bisa didistribusikan,” tuturnya.

Namun, sambungnya sebelum vaksin belum benar-benar ditemukan, masyarakat harus tetap disiplin dengan protokol kesehatan dan menerapkan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

 

Sumber : bisnis.com