Bangkit dari Pandemi, Pelaku Industri Kerajinan & Batik Diberi Pendampingan

Kegiatan seminar virtual. - Ist/BBKB
12 Agustus 2020 05:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perajin batik menjadi salah satu sektor usaha yang terkena dampak pandemi. Mereka banyak yang berhenti beroperasi karena berbagai aktivitas terutama wisata terhenti sehingga permintaan menurun drastis.   

Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) di Yogyakarta berupaya memberikan pendampingan. Salah satunya dengan menyelenggarakan seminar online bertajuk Strategi Industri Kerajinan dan Batik Mengatasi Krisis di Masa Pandemi. Kegiatan virtual ini sekaligus sebagai wadah berbagi informasi dan diskusi bagi pelaku industri kerajinan dan pemangku kepentingan tentang strategi memperkuat industri kerajinan dan batik di masa Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

BACA JUGA : Selama Pandemi, Omzet Perajin asal Donokerto, Sleman Ini

“Kami terus mendorong agar industri kerajinan dan batik ini bisa bersaing  di masa pandemi,” katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (11/8/2020).

Kepala BBKB Yogyakarta Titik Purwati Widowati menambahkan, kegiatan itu diharapkan menjadi media kolaborasi dalam menghadapi tantangan  serta keberlangsungan industri kerajinan dan batik saat masa sulit akibat dampak pandemi Covid-19. “Sekaligus untuk menyongsong hari Batik Nasional yang jatuh pada bulan Oktober mendatang,” katanya.

Selama pandemi corona pihaknya terus memberikan pendampingan kepada pelaku industri kerajinan dan batik dengan cara menyelenggarakan kelas umum secara gratis melalui aplikasi Zoom. Selain itu kelas umum melalui aplikasi Whatsapp yang digelar sepekan dua kali secara rutin. Salah satunya materi terkait dengan menyebarluaskan teknik pembuatan masker kain kepada masyarakat.

BACA JUGA : 70% UMKM di Bidang Kerajinan di Jogja Terimbas Corona 

“Selama pandemi kami telah menyelenggarakan kuliah zoom sebanyak tujuh kali dengan jumlah peserta 913 orang, dan kulwap  12 kali dengan jumlah peserta 2.336 orang,” ujarnya.

Di sisi lain pencegahan penyebaran Covid-19 juga dilakukan dengan perluasan litbangyasa seperti pembuatan masker kain, pembuatan hand sanitizer, cairan disinfektan, pembuatan  face shield.

Ia menambahkan industri kecil menengah kerajinan dan batik merupakan sektor yang memiliki resiliansi yang cukup tinggi di masa krisis. Seperti halnya pada krisis ekonomi di 1998, di tengah ketidakpastian usaha pada pandemi Covid 19 yang terjadi saat ini, IKM kerajinan dan batik berupaya mempertahankan bisnisnya antara lain dengan cara memproduksi alat pelindung diri (APD) sederhana seperti masker kain dan APD lainnya.

“Kami memberikan bantuan APD tersebut ke Gugus Tugas DIY,” ujarnya.