Advertisement

Pakar Epidemiologi Sarankan Tetap Belajar Daring

Herdanang Ahmad Fauzan
Sabtu, 08 Agustus 2020 - 21:17 WIB
Budi Cahyana
Pakar Epidemiologi Sarankan Tetap Belajar Daring Guru memberikan materi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada siswa baru secara daring di SMA Negeri 8 Jakarta, Senin (13/7/2020). Kegiatan MPLS dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono menyarankan Kemendikbud tetap memberlakukan kegiatan belajar mengajar daring di sekolah-sekolah.

Bagi Yunis, belajar dengan cara tatap muka di sekolah pada masa pandemi Covid-19 adalah hal riskan, bahkan meski beberapa wilayah diklaim sudah aman.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Saya rasa belajar online itu tetap yang paling aman untuk sekarang. Risiko belajar dengan tatap muka di sekolah terlalu besar karena meski di lingkungan kecilnya aman, siswa tidak mungkin tak berinteraksi dengan dunia luar,” tuturnya kepada Jaringan Infoemasi Bisnis Indonesia, Sabtu (8/8/2020).

Kendati demikian, bukan berarti pemerintah lantas bisa berpangku tangan.

Yunis menilai pembelajaran daring yang diterapkan saat ini belum optimal, karena tidak ada regulasi yang mengatur hal-hal secara spesifik.

“Alangkah baiknya jika pemerintah bisa menyiapkan aturan pembelajaran daring per jenjang. Jadi, meski sama-sama daring, syarat dan prosedurnya antara anak TK, SD, SMP dengan SMA harus dibedakan betul. Karena cara mereka menyerap teknologi itu kan juga beda-beda,” sambungnya.

Kritik serupa ucapan Yunis juga dipaparkan kawannya sesama epidemiolog UI Pandu Riono.

Menurut Pandu dalam salah satu cuitannya hari ini, sebenarnya praktik pembelajaran daring justru bisa dijadikan momentum bagi pemerintah-khususnya Kemendikbud-untuk menciptakan terobosan-terobosan.

“Kita pernah punya ide-ide besar, seperti ‘sekolah tanpa dinding.’ Atau ingat buku Deschooling Society yang mengkritik sekolah yang tidak membebaskan. Inilah kesempatan mewujudkan belajar merdeka, bukan memenjarakan anak dalam gedung sekolah. Itukah yang kita lakukan sekarang?” tanyanya retoris.

Belakangan, pegiat kesehatan dan pendidikan memang acap menyorot kebijakan pemerintah.

Terakhir, Kemendikbud dianggap menempuh manuver berisiko karena berencana mengizinkan kembali aktivitas tatap muka di sekolah-sekolah yang terletak di kawasan zona hijauh dan kuning Covid-19.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Salah Paham, ODGJ Asal Madiun Nyaris Dimassa di Gunungkidul

Gunungkidul
| Senin, 30 Januari 2023, 13:57 WIB

Advertisement

alt

Ke Depan, Naik Candi Borobudur Harus Pakai Sandal Khusus

Wisata
| Senin, 30 Januari 2023, 13:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement