Virus Corona Belum Reda, Beijing Kembali Lockdown

Sejumlah warga memakai masker saat berjalan menuju stasiun bawah tanah kereta subway di Kota Beijing, China, Selasa (21/1/2020). Wabah virus corona seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang menyebar di China dan mencapai tiga negara Asia lainnya, disebut-sebut bisa menular dari manusia ke manusia. - Reuters
14 Juni 2020 22:37 WIB Bhekti Suryani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA —Negeri Tiongkok belum aman dari virus Corona. Kebijakan lockdown kembali diberlakukan.

Beberapa bagian wilayah kota Beijing kembali memberlakukan protokol penguncian atau lockdown setelah sekelompok kasus virus Corona baru penyebab wabah Covid-19 yang ditransmisikan secara lokal muncul kembali dalam kurun dua bulan dari kasus terakhir.

Wabah Covid-19 yang kali ini berasal dari pasar makanan grosir Xinfadi di distrik Fengtai bagian selatan. Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang tantangan menjaga wabah tersebut agar tetap terkendali. Bahkan di negara seperti China yang pemerintahnya memberlakukan aturan yang sangat ketat, tapi tetap ditemukan kesulitan.

Kasus pertama pada wabah baru ini ditemukan pada Kamis lalu, yaitu pada seorang pria berusia 52 tahun. Diperkirakan kasus itu berkembang menjadi puluhan seperti dikutip TheGuardian.com, Minggu (14/6/2020).

Padahal, sebelumnya Beijing telah bersih dari kasus selama 55 hari. Terakhir, orang yang terinfeksi adalah warga negara yang baru kembali dari negara lain.
Bahkan sebagian besar kota ini sudah mulai menjalani kehidupan normal dan restoran serta toko-toko mulai dibuka kembali.

Akhirnya, protokol menjaga jarak, dan penangguhan acara olahraga kembali dilakukan. Rencana untuk membuka kembali sekolah pun ditahan.

Enam kasus infeksi baru juga dilaporkan kemarin yang terdiri dari tiga pekerja di pasar Xinfadi, dua orang pengunjung, dan satu rekan dari salah satu pengunjung.

Pengujian massal pada ratusan orang pekerja di pasar Xinfadi mengungkap adanya 45 kasus asimptomatik atau orang tanpa gejala (OTG). Sedangkan lebih dari 10.000 orang yang bekerja di pasar akan segera diuji.

Sumber : Bisnis.com