China Revisi Angka Kematian, Korban Jiwa Covid-19 Bertambah 1.290

Sepasang orang tua beserta bayinya menggunakan pakaian pelindung saat berada di Bandara Internasional Tianhe Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, yang menjadi pusat wabah virus corona jenis baru COVID-19 pada Jumat (10/4/2020). - Reuters
17 April 2020 15:47 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – China merevisi angka kematian akibat virus corona (Covid-19). Jumlah korban jiwa pun bertambah lebih dari 1.000 orang.

Kantor berita pemerintah Xinhua pada Jumat (17/4/2020) melaporkan jumlah korban jiwa akibat Covid-19 bertambah sebanyak 1.290 orang di Wuhan, kota asal virus corona jenis baru yang menyebabkan penyakit tersebut.

Dengan demikian, jumlah korban jiwa melonjak hampir 40% menjadi total 4.632 orang hingga Jumat siang WIB, seperti dikutip dari www.worldometers.info. Mayoritas dari total jumlah ini berasal dari provinsi Hubei tempat Wuhan berada.

Selain merevisi angka kematian, China juga merevisi jumlah kasus dengan menambahkan 325 kasus baru terinfeksi corona.

“Seluruh korban jiwa tambahan ditemukan di Wuhan. Sebagian dari mereka meninggal di rumah tanpa memeriksakan ke dokter ataupun melakukan pengujian untuk virus ini, sehingga tidak tercatat dalam data pada saat itu,” tulis Xinhua mengutip informasi pejabat dari unit pengendalian epidemi di Wuhan, dilansir dari Bloomberg.

Faktor-faktor lain di balik revisi ini adalah pelaporan yang terlambat dan tidak lengkap karena pekerja medis dan lembaga kewalahan dengan merawat banyaknya pasien.

Selama krisis corona, semua rumah sakit yang ditunjuk untuk merawat pasien juga diperluas ke lembaga-lembaga di tingkat kota dan kabupaten, termasuk rumah sakit swasta. Tidak semua rumah sakit itu terhubung dan memberi informasi yang tepat waktu ke jaringan epidemi pusat.

Bulan lalu, foto-foto ribuan guci abu yang diangkut ke rumah duka di Wuhan beredar di platform-platform media sosial China. Gambaran ini meningkatkan kekhawatiran bahwa angka kematian yang sebenarnya di Wuhan lebih tinggi daripada yang diakui secara resmi.

Sementara itu, pemerintah China membantah tuduhan bahwa mereka sengaja melaporkan jumlahnya yang tidak sebenarnya. Pihak otoritas menegaskan bahwa mereka membagikan segala informasi yang mereka miliki secara transparan.

Namun, revisi data yang dilakukan berulang kali sepanjang krisis ini, termasuk penambahan sebanyak hampir 15.000 kasus dalam satu hari yang didiagnosis melalui metode klinis berbeda pada bulan Februari, telah memicu keraguan.

Meski revisi tersebut menandai lonjakan yang substansial, total angka kematian resmi baru China masih terbilang rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat yang telah mencatat total lebih dari 30.000 korban jiwa, juga Italia dan Spanyol yang masing-masing mencatat sekitar 20.000 kematian akibat corona.

Revisi ini dihasilkan setelah sebuah kelompok investigasi dibentuk pada akhir Maret untuk mencermati data wabah dan menemukan perbedaan-perbedaan, lapor Xinhua.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia