Pertokoan di Jepang Tutup dengan Sukarela meski Tidak Ada Lockdown

Gunung Fuji menjadi latar bangunan di Tokyo, Jepang. - Akio Kon/Bloomberg
03 April 2020 23:47 WIB Nirmala Aninda News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe masih bimbang untuk menentukan kebijakan di tengah kondisi darurat penyebaran virus corona. Meski demikian, pemilik toko, restoran, bar, dan toko ritel mengambil inisiatif sendiri dengan secara sukarela menutup bisnis mereka untuk membantu mengurangi penyebaran virus.

Dilansir melalui Bloomberg, sebagian besar pertokoan dan tempat hiburan di Tokyo akan menutup pintunya mulai akhir pekan ini hingga pekan depan.

Tempat-tempat yang biasanya menjadi lokasi berkumpul warga lokal maupun pelancong seperti karaoke, pusat hiburan, bar izakaya dan toko ritel akan menutup bisnis mereka hingga 10 hari ke depan.

"Penutupan ini didahului oleh bioskop dan pusat perbelanjaan yang sudah tidak beroperasi sejak pekan lalu sebagai tindak lanjut dari himbauan Gubernur Tokyo Yuriko Koike agar orang-orang teteap berada di dalam ruangan," seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (3/4).

Strategi Jepang untuk menangani virus sejauh ini sebisa mungkin menghindari lockdown yang diberlakukan di negara-negara kaya lainnya. Hingga saat ini Jepang masih memiliki tingkat infeksi terendah dari negara-negara G7.

Otoritas negara tidak memiliki kekuatan untuk memberlakukan lockdown bahkan jika keadaan darurat diumumkan.

Sebagai gantinya, negara ini berfokus pada mendorong orang untuk menghindari penumpukan atau yang disebut dengan "Tiga C", antara lain ruang yang penuh sesak dengan ventilasi yang buruk, kondisi yang penuh sesak dengan orang-orang dan percakapan dalam jarak pendek.

Pilihan untuk menutup bisnis bukan hal yang mudah untuk dilakukan, terutama untuk perusahaan terdaftar yang telah tertekan oleh pasar.

Saham operator pusat hiburan, Round One Corp., turun sebanyak 14% setelah mengumumkan akan menutup semua tokonya. Jaringan restoran Yakitori Torikizoku Co. mencatatkan penurunan saham paling banyak sejak listing pada 2014.

Pemerintah telah menawarkan subsidi untuk perusahaan yang terpaksa menutup toko, selama mereka mempertahankan pekerjaan para karyawan.

Seiichiro Samejima, seorang analis di Ichiyoshi Research Institute Inc., menunjukkan penurunan hampir 80% pada penumpang kereta sepanjang akhir pekan lalu di Tokyo.

“Jumlah pelanggan dan penjualan akan turun dengan bersamaan. Perusahaan mungkin juga memikirkan memangkas beban operasional," katanya.

Pandemi ini terjadi di waktu yang sangat tidak tepat, setidaknya di Jepang.

April merupakan awal tahun baru bagi sebagian besar universitas dan perusahaan, yang biasanya melihat peningkatan bisnis dari para mahasiswa dan karyawan yang akan merayakan kesuksesan mereka dengan makan malam, karaoka dan pesta.

Tetapi dengan publik menjadi lebih sadar akan perlunya menjaga jarak sosial, banyak yang sudah mulai menghindari pertemuan semacam itu.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia