Polusi Udara Naikkan Angka Kematian akibat Virus Corona

Foto ruang terbuka hijau di Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2020). - JIBI/Bisnis.com/Himawan L Nugraha
17 Maret 2020 22:07 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Para ahli menyatakan kerusakan kesehatan yang ditimbulkan karena polusi udara cenderung menaikkan tingkat kematian akibat infeksi virus Corona (Covid-19).

Dikutip dari The Guardian, Selasa (17/3/2020) udara kotor diketahui telah menyebabkan kerusakan kesehatan pada organ paru-paru dan jantung, juga bertanggung jawab atas setidaknya 8 juta kematian dini dalam setahun.

Kerusakan kesehatan yang diakibatkan oleh polusi udara ini adalah infeksi pernapasan, sama seperti yang diserang oleh virus corona baru. Oleh sebab itu, ada kemungkinan penderita virus corona yang terpapar udara kotor memiliki dampak yang lebih serius.

“Pasien dengan penyakit paru-paru dan jantung kronis yang disebabkan atau diperburuk oleh paparan polusi udara jangka panjang, kurang mampu melawan infeksi paru-paru. Ini juga mungkin berlaku untuk Covid-19,” kata Sara De Matteis, anggota komite European Respiratory Society.

Hal ini diungkapkan bukan tanpa landasan. Ada bukti dari wabah virus corona sebelumnya, bahwa mereka yang terpapar udara kotor lebih berisiko meninggal. Para ilmuwan yang menganalisis wabah virus corona SARS di China pada 2003 lalu menyatakan hal tersebut.

Penelitian lainnya juga dilakukan terhadap virus corona MERS di Arab Saudi pada 2013, yang menunjukkan bahwa perokok tembakau lebih mungkin terkena penyakit ini dan lebih mungkin meninggal karena virus tersebut.

Adapun, penelitian awal pada virus corona baru atau Covid-19 menunjukkan bahwa perokok dan mantan perokok lebih rentan terhadap virus. Akan tetapi, satu perbedaan yang perlu diperhatikan adalah bahwa tingkat kematian Covid-19 lebih rendah dari pada SARS dan MERS.

“Mengingat apa yang kita ketahui sekarang [tentang Covid-19], sangat mungkin bahwa orang yang terpapar polusi udara dan merokok produk tembakau akan lebih buruk jika terinfeksi,” kata Aaron Bernstein, direktur pelaksana Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Oleh sebab itu, Sascha Marschang, sekretaris jenderal dari European Public Health Alliance mengatakan setelah krisis virus corona berakhir, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengurangi udara kotor di berbagai wilayah.

“Setelah krisis ini berakhir, pembuat kebijakan harus mempercepat langkah-langkah untuk mengeluarkan kendaraan kotor dari jalanan. Ilmu pengetahuan memberitahu kita bahwa pandemi seperti Covid-19 akan terjadi dengan frekuensi yang semakin meningkat. Jadi membersihkan kualitas udara adalah investasi dasar untuk masa depan yang lebih sehat,” tandasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia