Perang Harga Minyak, Arab Saudi Kerek Produksi Besar-besaran

Kilang Minyak - Bloomberg
10 Maret 2020 23:47 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Saudi Aramco, perusahaan minyak negara Arab Saudi, berjanji akan memasok produksi dengan rekor jumlah mencapai 12,3 juta barel per hari bulan depan. Langkah ini adalah upaya produksi besar-besaran untuk membanjiri pasar.

Jumlah itu meningkat lebih dari 25 persen dibandingkan dengan bulan lalu. Pada Februari, Arab Saudi memproduksi minyak sekitar 9,7 juta barel per hari.

Peningkatan produksi ini menempatkan suplai Aramco di atas kapasitas maksimum yang berkelanjutan, sekaligus menunjukkan bahwa Saudi memanfaatkan inventaris strategisnya untuk membuang minyak mentah sebanyak mungkin dan secepat mungkin di pasar.

Langkah tersebut menjadi manuver terbaru yang diperkirakan akan menjadi perang harga panjang dan pahit antara Rusia dan Arab Saudi.

Pada Senin (9/3/2020), harga minyak acuan turun lebih dari 20 persen, penurunan satu hari terbesar sejak Perang Teluk pada tahun 1991, sehingga menciptakan pergolakan di pasar saham dan obligasi global.

Harga minyak, yang tengah memulih setelah anjlok pada Senin, seketika goyah pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2020). Minyak mentah Brent diperdagangkan 5,9 persen lebih tinggi di level US$36,38 per barel pada pukul 09.34 waktu London.

Rusia tak tinggal diam. Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan negerinya memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi sebesar 500.000 barel per hari. Langkah ini akan membuat produksi negara itu berpotensi mencapai 11,8 juta barel per hari, sebuah rekor.

“Selamat datang di pasar bebas,” ujar Bob McNally, pendiri perusahaan konsultan Rapidan Energy Group dan mantan pejabat Gedung Putih, seperti dilansir dari Bloomberg.

“Dunia akan belajar dengan sangat cepat betapa pentingnya pergerakan produsen untuk stabilitas, tidak hanya untuk pasar minyak global tetapi ekonomi dan geopolitik yang lebih luas,” tambahnya.

Selama beberapa dekade, pasar minyak telah banyak mendapatkan pengaturan. Pertama oleh Amerika, yang menetapkan kuota produksi untuk perusahaan minyak mereka melalui Texas Railroad Commission pada pertengahan abad ke-20, dan kemudian oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Selama masa itu, Texas dan OPEC selanjutnya silih berganti meningkatkan produksi pada saat kelangkaan dan menguranginya pada saat permintaan rendah untuk menjaga harga stabil.

Dengan permintaan minyak yang turun dengan cepat karena dampak ekonomi dari wabah virus corona, kenaikan produksi Saudi, diikuti oleh potensi kenaikan dari Rusia, kemungkinan akan memaksa perusahaan-perusahaan minyak untuk menyimpan minyak mentah, ketimbang memprosesnya.

International Energy Agency (IEA) awal pekan ini mengatakan bahwa permintaan minyak global akan berkontraksi tahun ini untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan global pada 2009.

Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya mulai khawatir tentang perang harga minyak antara dua negara minyak paling kuat di dunia itu.

Pada Senin (9/3/2020), Departemen Energi AS, dalam sebuah pernyataan yang jarang dikeluarkan, mengecam "upaya para pelaku negara untuk memanipulasi dan mengejutkan pasar minyak".

Di sisi lain, meskipun kedua belah pihak meningkatkan produksi dan perang kata-kata, Novak mengutarakan soal terbukanya pembicaraan di masa depan. Dia mengatakan negara-negara OPEC+ dapat bertemu pada Mei atau Juni mendatang.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia