Advertisement
Loh, Menunda Pekerjaan Ada Sisi Baiknya?
Ilustrasi - Sheknows
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Menunda-nunda pekerjaan ternyata ada sisi baiknya. Sebab, menunda suatu pekerjaan ternyata bisa jadi sumber kreativitas.
Saat Anda menunda, ada peluang untuk berpikir secara divergen atau tidak mencurahkan seluruhnya pada satu ide tertentu. “Hasilnya, Anda mempertimbangkan cakupan konsep orisinal yang lebih luas dan akhirnya memilih arah yang lebih baru,” tulis Adam Grant dalam bukunya Originals: How Non-Conformists Move the World yang diterjemahkan menjadi Originals: Tabrak Aturan, Jadilah Pemenang.
Advertisement
Grant dan rekannya Jihae Shin kemudian membuat penelitian tentang teori itu. Mereka meminta sejumlah mahasiswa menulis proposal bisnis untuk suatu tempat kosong di bekas toko serba ada.
Kelompok mahasiswa dibagi dua, yaitu yang langsung mengerjakan proposal dan ada yang diminta menundanya dengan bermain game komputer sebelum menulis proposal. Hasilnya, mahasiswa yang menunda menulis proposal dengan main game jauh lebih kreatif dalam ide-idenya.
Sementara mahasiswa yang langsung mengerjakan tugas memberikan ide untuk membuat toko serba ada lagi, mahasiswa yang melakukan penundaan mngusulkan ide bisnis yang lebih variatif seperti pusat tutor dan fasilitas pnyimpanan.
Namun, penundaan tak selalu memperkuat kreativitas. Menurut Grant, “jika karyawan tak termotivasi memecahkan masalah besar, penundaan pekerjaan hanya membuat mereka mundur. Namun, ketika mereka berhasrat menghasilkan ide baru, penundaan akan membangkitkan solusi kreatif.”
Penundaan ternyata punya akar yang lebih jauh daripada era Revolusi Industri, yaitu dalam budaya Mesir Kuno. “Dalam budaya Mesir Kuno, ada dua kata kerja untuk penundaan: yang satu mengacu pada kemalasan, sedangkan yang satu lagi bermakna menunggu waktu yang tepat.”
Penemu dan seniman kenamaan Leonardo da Vinci juga diketahui punya kebiasaan menunda pekerjaan. Menurut Grant, para ahli memperkirakan da Vinci melukis Mona Lisa dengan banyak waktu jeda mulai 1503. Ia baru benar-benar menyelesaikan lukisan itu menjelang kematiannya pada 1519.
Lukisan lainnya yang juga populer, The Last Supper, dikembangkan dalam tempo 15 tahun. Ia banyak mengambil jeda dengan mengerjakan proyek-proyek yang lain.
Dalam catatannya, Grant menulis bahwa psikolog Mareike Wieth dan Rose Zacks pernah mensurvei mahasiswa yang digolongkan manusia siang atau manusia malam. Mereka diminta menyelesaikan soal analitis dan wawasan pada pukul 08.00 pagi dan 04.30 sore.
“Keduanya mengerjakan soal analitis sama bagusnya di kedua waktu tersebut. Namun pada soal wawasan, manusia malam memang lebih baik mengerjakan lebih baik pada pagi hari, dan manusia siang lebih bagus pada sore hari.”
Saat dalam kondisi segar, mereka sangat menggunakan cara berpikir linier yang terstruktur sehingga menghalangi gagasan baru muncul. Saat mengantuk, mereka lebih terbuka terhadap cara berpikir acak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kasus Diabetes di Sleman Tembus 17.259 Orang, Lansia Dominan
Advertisement
Masuk Jepang Wajib JESTA 2026, Ini Biaya dan Cara Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Biaya Korban Ledakan SAL di Teras Malioboro Ditanggung Pengelola
- Isu Pertamax Naik 10 Persen 1 April, Ini Penjelasan Bahlil
- Polemik Retribusi Parangtritis, Pemkab Bantul Berencana Pindah TPR
- Bos Maktour dan Ketua Kesthuri Ditetapkan Tersangka Korupsi Kuota Haji
- HUT ke-80 Sultan HB X, 10.000 Pamong se-DIY Bakal Kirab Hasil Bumi
- Sempat Viral Putus Sekolah Rawat Orang Tua, Fendi Kembali ke Kelas
- Kemenko PM: Kasus Amsal Sitepu Ancaman Bagi Industri Kreatif Nasional
Advertisement
Advertisement



