Advertisement
Curhat Keberhasilan Menristekdikti hingga Bully-an karena Rektor Asing
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Mohamad Nasir. JIBI/Bisnis - Alif Nazzala Rizqi
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Selama menjabat sebagai menteri Kabinet Jokowi Jilid I, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir membeberkan beberapa capaiannya dalam lima tahun menjabat dan tergabung dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK dalam kurun waktu 2014 hingga 2015.
Ia membuka acara bedah kinerja di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta Selatan pada Jumat (18/10/2019) dengan pengakuan kalau dirinya sebenarnya tidak memiliki cita-cita ingin menjadi menteri.
Advertisement
“Bukan cita-cita saya jadi menteri. Pada saat saya diangkat menjadi menteri, saya masih menjadi rektor (Universitas Diponegoro, Semarang), pertanyaannya apakah kinerja saya tercapai atau tidak. Ternyata ada yang tidak tercapai,” bukanya.
Nasir mengungkapkan tantangan awal yang ia hadapi saat menjabat adalah menggabungkan Ditjen Dikti yang awalnya dari Kemendikbud menjadi Kemenristekdikti karena kedekatannya dengan riset dan penelitian. Selanjutnya, ia menggarisbawahi adanya peningkatan luar biasa dalam bidang sistem, perizinan serta penerbitan ijazah untuk lulusan luar negeri, dalam kurun waktu lima tahun ia menjabat.
BACA JUGA
“Yang kita perbaiki adalah menjadi sistem online di tahun 2016 berhasil. Contohnya perizinanan kenaikan jabatan itu satu tahun nggak selesai, sekarang online cukup dua minggu. Penerbitan ijazah juga 2016, kami sempat dihajar oleh Ombudsman,” tuturnya.
Nasir lalu merinci peningkatan kualitas SDM Dikti pada 2019 mengalami peningkatan menjadi 44.600 orang, namun memang tidak disertai dengan peningkatan di sisi jumlah pendidik mengikuti sertifikasi dosen tahunan yang terbilang menurun menjadi 7.793 orang.
Salah satu capaian terbesar adalah dari sisi penguatan riset dan pengembangan, dimana Indonesia di urutan kedua dengan jumlah 22.888 publikasi riset internasional, satu tingkat dibawah Malaysia dengan jumlah 24.185 publikasi. Sementara isu, paten domestik Indonesia juga mengalami lonjakan selama dua tahun terakhir yakni berada di urutan pertama dengan 2.842 jenis paten.
Peningkatan juga terjadi di sisi penguatan inovasi dan startup tahun dengan target 1000 Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang kini sudah mencapai angka 1307, dengan jumlah 30 startup mature dengan omset lebih besar Rp1 miliar per tahun.
Terakhir, Nasir menyatakan salah satu isu yang paling menyita perhatiannya hingga saat ini adalah pengangkatan rektor baru dari luar negeri yang sempat menjadi polemik karena dianggap sebagai gerakan non-nasionalis.
“Ada satu isu yang menghambat saya saat mengangkat rektor orang asing tapi ternyata gegernya luar biasa. Saya di-bully habis-habisan. Saat ini, sudah ada perguruan tinggi swasta yang rektornya orang asing. Minimal nanti pascasarjana juga rektornya orang asing agar angka reputasinya lebih baik,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Serangan AS-Israel ke Iran, 4 Penerbangan Internasional Bali Tertunda
- Adipura 2025 Nihil, Pengelolaan Sampah Dinilai Belum Layak
- AKBP Didik Terima Uang Keamanan dari Bandar Narkoba Koko Erwin
- Bentrok Pakistan-Afghanistan Memanas, PBB Serukan Jalur Diplomasi
- Pengamat Dorong THR Dibayar H-14, Ini Alasannya
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Tak Menentu, Gabah Petani Gunungkidul Dijemur di Dalam Rumah
- Jadwal SIM Keliling Bantul 28 Februari 2026, Cek Lokasi dan Jamnya
- TPID Pastikan Stok Pangan Kota Jogja Aman Selama Ramadan
- KPK Bongkar Modus Safe House Kasus Suap Bea Cukai
- Jadwal SIM Keliling Jogja 28 Februari 2026, Malam di Alun-Alun Kidul
- Barahmus DIY Targetkan Museum Rempah dan Keris Bergabung di 2026
- Jadwal KA Bandara YIA 28 Februari 2026, Lengkap
Advertisement
Advertisement









