Curhat Keberhasilan Menristekdikti hingga Bully-an karena Rektor Asing

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) RI Mohamad Nasir. JIBI/Bisnis - Alif Nazzala Rizqi
19 Oktober 2019 12:27 WIB Ria Theresia Situmorang News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Selama menjabat sebagai menteri Kabinet Jokowi Jilid I, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir membeberkan beberapa capaiannya dalam lima tahun menjabat dan tergabung dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK dalam kurun waktu 2014 hingga 2015.

Ia membuka acara bedah kinerja di Gedung Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta Selatan pada Jumat (18/10/2019) dengan pengakuan kalau dirinya sebenarnya tidak memiliki cita-cita ingin menjadi menteri.

“Bukan cita-cita saya jadi menteri. Pada saat saya diangkat menjadi menteri, saya masih menjadi rektor (Universitas Diponegoro, Semarang), pertanyaannya apakah kinerja saya tercapai atau tidak. Ternyata ada yang tidak tercapai,” bukanya.

Nasir mengungkapkan tantangan awal yang ia hadapi saat menjabat adalah menggabungkan Ditjen Dikti yang awalnya dari Kemendikbud menjadi Kemenristekdikti karena kedekatannya dengan riset dan penelitian. Selanjutnya, ia menggarisbawahi adanya peningkatan luar biasa dalam bidang sistem, perizinan serta penerbitan ijazah untuk lulusan luar negeri, dalam kurun waktu lima tahun ia menjabat.

“Yang kita perbaiki adalah menjadi sistem online di tahun 2016 berhasil. Contohnya perizinanan kenaikan jabatan itu satu tahun nggak selesai, sekarang online cukup dua minggu. Penerbitan ijazah juga 2016, kami sempat dihajar oleh Ombudsman,” tuturnya.

Nasir lalu merinci peningkatan kualitas SDM Dikti pada 2019 mengalami peningkatan menjadi 44.600 orang, namun memang tidak disertai dengan peningkatan di sisi jumlah pendidik mengikuti sertifikasi dosen tahunan yang terbilang menurun menjadi 7.793 orang.

Salah satu capaian terbesar adalah dari sisi penguatan riset dan pengembangan, dimana Indonesia di urutan kedua dengan jumlah 22.888 publikasi riset internasional, satu tingkat dibawah Malaysia dengan jumlah 24.185 publikasi. Sementara isu, paten domestik Indonesia juga mengalami lonjakan selama dua tahun terakhir yakni berada di urutan pertama dengan 2.842 jenis paten.

Peningkatan juga terjadi di sisi penguatan inovasi dan startup tahun dengan target 1000 Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) yang kini sudah mencapai angka 1307, dengan jumlah 30 startup mature dengan omset lebih besar Rp1 miliar per tahun.

Terakhir, Nasir menyatakan salah satu isu yang paling menyita perhatiannya hingga saat ini adalah pengangkatan rektor baru dari luar negeri yang sempat menjadi polemik karena dianggap sebagai gerakan non-nasionalis.

“Ada satu isu yang menghambat saya saat mengangkat rektor orang asing tapi ternyata gegernya luar biasa. Saya di-bully habis-habisan. Saat ini, sudah ada perguruan tinggi swasta yang rektornya orang asing. Minimal nanti pascasarjana juga rektornya orang asing agar angka reputasinya lebih baik,” tutupnya.

Sumber : bisnis.com