Air Naik Sampai Lantai 2, Dahsyatnya Topan Hagibis yang Mendera Jepang

Ilustrasi badai. - JIBI
14 Oktober 2019 00:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, TOKYO- Bencana Topan Hagibis melanda Jepang dan menewaskan korban jiwa.

Korban tewas hantaman Topan Hagibis di Jepang bertambah menjadi 20 orang hingga Minggu (13/10/2019) malam. Topan sudah bergerak meninggalkan pulau utama Jepang sejak Minggu pagi, namun meninggalkan kerusakan dahsyat.

Para korban tewas kebanyakan terseret banjir, baik di mobil maupun secara langsung lingkungan saat topan disertai hujan deras menerjang disertai meluapnya air sungai di belasan titik pada Sabtu malam.

Lebih dari 100.000 petugas penyelamat, termasuk 31.000 personel Pasukan Bela Diri dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak serta menyisir korban tewas.

Data resmi pemerintah mengunkap korban tewas 14 orang dan 11 lainnya hilang. Namun stasiun televisi NHK menyebut angka lebih banyak yakni korban tewas 24 orang.

Lokasi terparah adalah Nagano, di mana air Sungai Chikuma tumpah dan mencapai ketinggian hingga lantai 2 rumah.

Para tentara berburu dengan waktu menyelamatkan warga yang bertahan di balkon dan atap rumah sementara air terus naik.

Di Kota Iwaki, Fukushima, penyelamatan diwarnai insiden tewasnya seorang perempuan yang terjatuh saat dibawa ke tempat aman.

Penyelamatan di Kawagoe juga berlangsung dramatis. Lagi-lagi petugas berpacu dengan waktu menyelamatkan ratusan penghuni panti jompo yang ketinggian airnya mencapai atap.

Hagabis menerjang pulau utama Jepang, Honshu, pada Sabtu malam, disertai angin berkecepatan 216 kilometer per jam.

“Air naik lebih tinggi dari kepala saya di dalam rumah,” kata Hajime Tokuda,” warga Kawasaki, dekat Tokyo, dikutip dari AFP.

Dia mengungsi ke rumah keluarga yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun air juga naik sehingga keluarganya terpaksa dievakuasi menggunakan perahu.

Banjir juga merusak tanaman pertanian. Di Kota Higashi Matsuyama, Saitama, petani padi dan bunga mengalami kerugian besar setelah gudang penyimpanan terendam banjir dan merusak hasil panen mereka.

“Kami belum pernah mengalami banjir seperti ini sebelumnya. Kami tak tahu harus memulai dari mana untuk membersihkan kehancuran ini,” ujar seorang petani yang menolak menyebutkan namanya.

Sumber : iNews.id