Tak Hilang dalam Sekejap, Efek Gas Air Mata Terasa hingga Berhari-hari

Gerbang Pejompongan tol dalam kota, dibakar massa, di Jakarta, Selasa (24/9/2019). Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan berunjukrasa menolak UU KPK dan pengesahan RUU KUHP. - Antara
26 September 2019 13:57 WIB Hendri Tri Widi Asworo News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Efek dari peluru gas air mata (tear gun) ternyata tidak bisa hilang dalam sekejap.

Gas air mata yang dilontarkan saat kerusuhan demonstrasi di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, Rabu (25/2019) malam, masih terasa hingga siang hari ini (Kamis, 26/9/2019). 

Berdasarkan pantauan Bisnis, efek gas air mata mulai terasa sejak turun dari stasiun kereta Palmerah. Mata mulai terasa perih, dan hidung terasa panas, kendati sudah tidak ada bekas asap lagi di sepanjang jalan tersebut.

Efek gas air mata makin terasa saat melintas di bawah kolong jalan layang Pejompongan-Tol Dalam Kota. Mata semakin perih meskipun kaca helm sudah ditutup, dan hidung semakin panas meskipun memakai masker. 

Salah satu pengendara ojek online membenarkan bahwa efek gas air mata masih terasa hingga siang hari ini. "Tadi pagi malah lebih parah. Pedes banget di mata," ujar Mustarom.

Penggunaan gas air mata sempat menjadi viral di media sosial karena ditemukan selongsong peluru yang sudah kadaluarsa. Beredar foto selongsong peluru yang tertera tanggal kadaluarsa Mei 2016.

 Dalam konferensi pers di Kantor LBH Jakarta, Kamis (26/9/2019) siang ini, Aliansi Masyarakat untuk Keadilan Demokrasi (AMUK) mengindikasikan kandungan zat berbahaya dalam peluru gas air mata tersebut. Bahkan, gas air mata kedaluwarsa itu mengandung senyawa kimia yang beracun dan mengakibatkan kematian.

Sementara itu, pihak kepolisian menegaskan bahwa gas air mata yang digunakan oleh aparat kepolisian masih standar. 

Sumber : bisnis.com