Investor Lebih Pilih Vietnam Daripada Indonesia, Pemerintah Salahkan Hari Libur Kebanyakan

Menakertrans Hanif Dzakiri saat melihat pameran keselamatan kerja di sela-sela kegiatan The 6th ASEAN-OSHNET Conference di Hotel Grand Dafam Rohan Jogja, Kamis (28/3/2019). - Harian JOgja/Abdul Hamid Razak
23 September 2019 19:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Pemerintah menilai, banyaknya hari libur sebagai salah satu penghambat iklim investasi di Indonesia.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menilai, iklim tenaga kerja di Indonesia tidak kompetitif. Ini menjadi salah satu alasan investor lebih memilih negara ASEAN lain seperti Vietnam untuk berinvestasi ketimbang Indonesia.

Menaker menilai, jam kerja di Indonesia tidak kompetitif alias sedikit dibandingkan negara-negara kawasan. Di Indonesia, buruh hanya bekerja 40 jam seminggu di luar lembur.

Padahal, kata dia, rata-rata negara ASEAN bekerja 48 jam seminggu. Pendeknya jam kerja ini juga belum menghitung hari libur yang disebutnya terlalu banyak.

"Yang paling sederhana, urusan hari libur saja kita ini tidak kompetitif, liburnya banyak, libur melulu," ujarnya di Jakarta, Senin (23/9/2019).

Menurut Menaker, minimnya jam kerja buruh membuat investasi di Indonesia tidak efisien. Ini terlihat dari skor Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lain.

Semakin tinggi ICOR, berarti investasi semakin tidak efisien. Sebagai contoh, jika skor ICOR suatu negara 3, maka setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi nasional membutuhan 3 persen pertumbuhan investasi.

"ICOR-nya kita 6,3, Vietnam 4,3. 6,3 sama 4,3 itu kita sudah tidak kompetitif," katanya.

Menaker menilai, ekosistem ketenagakerjaan Indonesia juga sangat kaku di samping rendahnya produktivitas. Salah satunya masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sangat mahal karena harus membayar pesangon yang besar.

Sumber : iNews.id